Unknown

         “Jadi ini sekolahan baru kita?”  tanya Tyas sambil celingak-celinguk memasuki gerbang sekolah.
          “Lumayan bagus juga, kan? Nggak nyangka kita bias ikut program tukar pelajar ini,’ seru Friska.
          “Iya. Disini kita ber-4 akan memu         lai berkarya, okey, “ ajak Tom bersemangat.
          Mereka langsung masuk ke sekolah itu dan segera pergi mencari ruang guru. Sampai disana mereka langsung disambut dengan ramah . Ke-4 manusia bersahabat itu langsung diantar ke kelas mereka masing-masing. Sayangnya hanya Friska yang berbeda kelas dengan ke-3 kawanya. Didalam kelas mereka juga dismbut dengan penuh keceriaan oleh warga kelah disana.
          Tak terasa bel pun berbunyi saatnya siswa-siswi berperang sekuat tenaga mengalahkan meteri dan latihan soal-soal. Di kelas Friska duduk bersebelahan dengan Aira, cewek pendiam dan sangat misterius. Ketika bel istirahat berbunyi Friska sedikit berbincang dengan Aira.
          “Hey…, boleh tau nama kamu nggak?” tanya Friska ramah sambil menjulurkan tangannya ke arah Aira.
          Aira,” jawabnya singkat tanpa menoleh sosok Friska dan tidak membalas uluran tangannya. Aira hanya menunduk ke bawah Dia memang sangat aneh, tidak banyak orang yang mau berteman dengannya ataupun menyapanya. Terkadang dia bisa membaca sesuatu yang belum terjadi, seperti seorang peramal. Mungkin keanehan itu yang membuatnya selalu sendiri.
          “Mau ke kanti nggak? Aku bisa kenalankan kamu sama ke-3 kawanku,” ajak Friska.
          “Nggak perlu. Ke-3 kawanmu telah menunggumu lama disana, cepat sana pergi,” jawab Aira memerintah dingin.
          “Okey, aku pergi dulu ya,” seru Friska berlari kecil meninggalkan kelas.
          Suasana di kantin sangat ramai penuh siswa-siswi. Teriakan para pengmuni sekolah yang saling bersahut-sahutan memesan makanan dan minuman. Ocehan mulut para manusia yang saling berserita pada kawan-kawanya menambah suasana semakin ramai. Membuat Friska semakin bingung mencari ke-3 sosok sobatnya itu.
          Friska terus celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri namu, tetap tak menemukannya sosok yang ia cari. “ Friska, kami disini,” teriak Tyas dari kejauhan sambil melambai-lambai padanya. Mendengar teriakkan itu Friska menghampiri asal suara itu. Ke-3 kawanya memang sudah lama ada disitu. Benar yang dikatakan Aira di kelas tadi.
          “Ternyata kalian disini. Gimana kelas baru kalian asyik nggak?” Tanya Friska sambil berupaya duduk dan menormalkan nafasnya yang terengah-engah.
          “Nggak asyik lagi tapi emang
seru buuuaangeeett pool deh. Apalagi tadi kebetulan ada perayaan ulang tahun kecil-kecilan dari salah satu siswa di kelas kita low,” jawab Tyas sedikit pamer.
          “Kalau di kelasmu sendiri gimana?” tanya Tom menyindir.
          “Lumayan enak, siswa-siswinya juga ramah-ramah. Tapi ada satu yang nggak aku suka. Cewek yang duduk bersebelahan denganku. Itu cewek cuek banget udah aku ajak ngomong tapi njawabnya dingin baget. Pokoknya nggak enak dech,” jawab Friska.
          “Kalau gitu nggak usah duduk sama dia aja gampang kan,” seru Tyas tanpa beban.
          “Enak aja kalau ngomong. Terus aku mau duduk dimana?” jawab Friska.
          “Ah, udahan dulu ngobrolnya,” potong Andi. “Aku denger laboraturium disini peralatanya lengkap . Gimana kalau kita kesan sambil ngebandingin sama sekolah kita yang dulu?” tanya Andi mengajak.
          Ke-4 manusia bersahabat
itupun akhirnya pergi ke laboraturium sekolah. Sampai disana mereka langsung masuk dan melihat-lihat peralatan yang ada disana.
          “Emang bener, Ndi. Alat-alat disini lebih lengkap dari pada sekolah kita yang dulu,” kata Friska.
          Friska mengelilingi tempat itu dan dia menemukan gumpalan rambut wanita lalu ia memungutnya. Tiba-tiba rambut itu bergerak dan mencekik leher Friska. Sontak Friska berteriak dan menarik rambut itu lalu melemparnya.
          “Kamu kenapa, Ka?’ tanya Andi heran.
          Friska menarik nafas dengan terangah-engah. "Ra..ra..rambut. Rambut itu.. Rambut itu bergerak dan mencekikku,” jawab Friska terbeta. Mukanya sangat ketakutan dan keringat dingin membasahi mukanya.
          “Friska tenang. Ada kita,” seru Tyas menenangkan sambil memeluk Friska erat.
          “Jauhkan rambut itu dariku!” jerit Friska.
          Tiba-tiba angin berhembus kencang dan menutup pintu laboraturium. “Aaarghk...,” teriak Friska dan Tyas bersama. Muncul dari depan sesosok wanita berpakaian putih, berambut panjang, dan badanya penuh berlumpuran darah segar. Mukanya pucat pasi dan penuh kedendaman. Ternyata rambut itu miliknya.
          Ke-4 manusia itu langsung merapat ke dinding menjauhi wanita itu. Namun, waita it uterus mendekat dan mencekik leher Tom. Seperti ada dendam diantara mereka. Tiba-tiba suasana berubah menjadi malam. Seolah seperti didalam kuburan. Terdengar lolongan serigala. Alunan siulan burung hantupun terdengar. Hembusan angin semakin kencang menerbangkan kertas-kertas dalam ruangan itu. Membuat bulu kuduk mereka terangkat.
          Wanita itu sepertinya ingin membunuh Tom. Dia mencekik leher Tom sampai membuat muka Tom membiru. Tiba-tiba gagang
pintu bergerak-gerak pelan. Ternyata
muncul sesosok gadis dan berlari menghampiri Friska.
          “Kak Vio, hentikan. Lelaki itu nggak salah. Dia bukan kak Frans. Mereka temanku dan mereka baik padaku. Hentikan, kak. Hentikan..,’ teriak Aira menangis. Akhirnya wanita itu melepaskan cekikannya dan menghilah begitu saja. Suasanapun kembali normal
***
          Sudah seminggu teror terus terjadi di laboraturium itu dan selalu anak lelaki yang mendapatkannya. Melihat hal itu Friska dan ke-3 kawannya berniat untuk ke rumah Aira malam itu juga.
          “Ada apa kalian kesini?” tanya Aira dingin.
          “Kami ingin tahu tentang wanita dalam laboraturium itu. Boleh kamu bercerita sedikit?” tanya Frisaka sedikit was was.
          “Nggak ada gunanya kalian tau hal itu,” jawab Aira sinis.
          “Kami cuma ingin penjelasan kamu sedikit aja,” tawar Andi.
          “Lebih baik kalian masuk dulu,” ajak Aira. Mereka ber-4 lansung dan melihan foto Aira dengan wanita pucat itu.
          “Foto itu bukanya wanita dalam laboraturium?” tanya Tyas
          “Benar. Wanita itu kakakku. Itu saat diam masih bersekolah ditempat kita sekarang sekolah. Namanya Viona, aku sangat saying padanya,” terang Aira pelan
          “Lalu apa yang terjadi dengannya,” tanya Andi.
          “Kak Vio menjalani cinta dengan guru kimianya saat ia duduk di kelas XII. Aku sudah melihat ada sesuatu yang aneh dalam hubungan mereka. Sedikit demi sedikit aku melarang hubungan itu. Namun, kak Vio sangat mencintai kak Frans, gurunya sendiri. Jadi semuanya percuma saja. Aku masih ingat bentakannya padaku saat itu. Malamnya aku bermimpi kak Vio akan hamil dan seminggu kemudian semua itu benar. Hal itu terjadi cepat, aku sudah terlambat,” jelas Aira dan air matanya mulai keluar sepertinya memang ada luka yang sangat dalam padanya.
          Aira menghapus air matanya dan mulai bercerita lagi. “Tapi itu bukan salah kak Vio, mereka memang saling mencintai. Hari berikutnya kak Vio meminta pertanggung jawaban dari kak Frans. Namun, ia tak mau. Akhirnya terjadi pertengkaran antara mereka didalm laboraturium itu. Dan indraku melihat kak Vio terbunuh dalam pertengkaran itu. Lalu jasadnya disembunyikan disana. Tapi selama itu aku tak pernah menemukan tubuh kak Vio. Setelah kejadian itu kak Frans tak lagi mengajar disana. Sebelumnya maafkan kakakku telah meneror kalian, apalagi tom dan Andi. Semejak kematian kak Vio, selalu ada korban lelaki yang terbunuh disana. Yang paling aneh kak Vio selalu datang saat angkatan ke ganjil,” panjang lebar Aira dan mulai menangis lagi.
          “Maksud kamu apa?” tanya Tom.
          “Kak Vio adalah siswi angkatan ke-3. Dan waktu angkatan ke-5, aku dengar ada korban lelaki yang diterbunh. Sekarang kita angkatan ke-7. Angkatan ganjil jugan. Kak Vio datang menghantui. Tapi disetiap angkatan genap tak ada korban disana. Jadi memang benar yang kukatakan. Aku takut akan ada korban selanjutnya sekarang. Mungkin bila mayat kak Vio ditemukan semuanya akan selesai,” seru Aira
          “Kalau gitu, gimana kalau kita ke sekolah? Kita buka semua misteri ini,” ajak Andi.
***
          Saat mencari-cari  mayat itu. Terdengerbunyi tangisan seorang wanita disana. ‘Aira..Aira..Aira.. tolong..tolong..tolong kakak..’
          “Suara apa itu? Dia memanggilmu, mungkin itu suara kak Vio,” seru Friska heran.
          “Itu memang suara kak Vio. Kita harus cari kak Vio cepat,” ajak Aira.
          “Sepertinya suara itu berasal dari balik dinding ini,” seru Andi sambil mendekatkan telinganya ke dinding.
          “Kayaknya iya, Ndi. Suaranya msemakin keras dari sini,” tambah Tom.
          “Gimana kalau kita hancurkan dinding ini saja?” ajak Andi.
          “Kayaknya dibalik dinding ini ada ruangan tersembunyi. Kalau kalian bias hancuri aja,” tawar Aira.
          Andi dan Tom langsung
menghancurkan dinding itu dengan alat yang ada didalam laboraturium.
Secepatnya mereka langsung memukulkan alat itu pada dinding. Dan ternyata ada sesosok lelaki yang usianya dilihat sudah boleh menikah. Paling tepatnya dia adalah kak frans, guru kimia kak Vio.
          “Anda...? Bukankah Anda yang membunuh kak Vio?” tanya Aira sedikit emosi.
          “Benar. Dan aku sangat mencintainya. Tapi aku telah membunuhnya lalu memasukkannya ke dalam sumur tua itu”, jawab Frans sinis sambil menunjuk patung yang dimaksudnya.
          “Kenapa kau tega melakukan itu padanya?” tanya Aira sambil melihat lubang sumur tua itu dan air matanya mulai keluar.
          Tiba-tiba muncul sosok wanita berpakaian putih dan berambut panjang. Wanita itu menyeringai lebar kearah Frans.
          “Viona, kau datang,” seru Frans sedikit takut.
          ‘Kau telah meninggalkanku dan membunuhku,’ geram Viona.
          “Lalu kenapa kau ingin membalas dendam padaku? Aku memang sangat mencintaimu tapi kita sudah berbeda alam. Ha..ha..ha..,” jawab Frans.
          ‘Kalau kau memang mencintaiku. Jadi ikutlah bersamaku,’ geram Viona. Lalu ia melemparkan peralatan di laboraturium kearah Frans  dan menimpai dirinya. Lelaki itu pun berlumpuran daran segar. Saat itu keluar arwah dari kedua mayat itu dan pergi meninggalkan Aira dan ke-4 temannya, sebelum pergi Viona dan Frans tersenyum lembut pada mereka.
***
          Keesokan harinya datang sekelompok polisi ke laboraturium sekolah itu. Mereka mengeluarkan jasad Viona dari sumur tua yang ada didalam laboraturium itu
          Semenjak misteri itu terungkap tidak ada lagi yang namanya teror- meneror lagi. Aira juga tak lagi pendiam dan menjadi anggota sahabat Friska dan ke-3 kawannya.
***
         
Label: edit post
0 Responses

Post a Comment