Unknown

Gemerlap pancaran lampu remang-remang menyinari sudut ruangan. Alunan suara musik DJ meramaikan suasana malam. Puluhan remaja berdatangan ikut memenuhi ruangan. Menari penuh gairah mengikuti alunan lagu yang dimainkan oleh DJ musik yang mahir. Pilihan musik DJ menambah semangat para penari. Suara musik yang sangat keras menggema ruangan.
            “Ayo, teruskan.. Kita menari sampai pagi..,” ajak Amara sambil menari. Tubuhnya sudah takterkandali lagi. Sudah berkali-kali dia meneguk bir.
            “Kamu nggak lagi mabukkan?” tanya Diana sambil melihat keadaan Amara yang menari sambil terhuyung-huyung.
            “Aku nggak mabuk.. Aku serius.. Semua yang ada disini aku bayarin sampai pagi..,” teriak Amara.
            “Iya, mana mungkin Amara bisa mabuk secepat itu. Dia mash minum sediki kok. Benerkan sayang,” terang Marvel.
            Tiba-tiba tubuh Amara terjatih menabrak meja. Melihat keadaannya. Diana dan Marvel langsung menghampiri Amara dan membopongnya keluar.
            “Eh.., Yan bawa dia pulang. Aku masih pingin disini,” seru Marvel sangat mabuk berat sambil melemparkan tubuh Amara yang taksadarkan diri ke Diana. Wanita itu hanya memenggang tubuh sahabatnya itu.
            “Aku juga lagi mabuk. Nggak mungkin aku bisa nyetir mobil sendiri, Vel,” jawab Diana.
            “Ah.., masa bodoh. Aku males ngurusin cewek itu..,” kata Marvel sambil menunjuk kekasihnya yang sedang tak sadarkan diri dan langsung masuk lagi ke diskotik.
            “Tunggu, Vel.. Amara- kan pacar kamu. Kamu harus bawa dia pulang..,” jerit Diana melihat kepergian Marvel.

            Sampai di muka rumah pagar Amara. Diana bimbang akan apa yang harus ia lakukan. Tidak mungkin bila ia harus mengetuk rumah Amara dan menyerahkan tubuh sahabatnya yang jelas-jelas sedang mabuk berat kepada orang tuanya. Bisa-bisa ia akan mendapat sambutan yang tidak menyenangkan. Maksudnya oemlan-omelan pedas dari keluarga Amara. Tapi Diana juga tak mungkin meletakkan tubuh sahabatnya diteras depan rumah Amara dan meninggalkannya begitu saja.
            Tok.. Tok.. Tok..
Bunyi ketukan lembut Diana yang sedikit bimbang akan pilihan hatinya. Namun tak ada jawaban dari dalam rumah ataupun datangnya seseorang untuk membuka pintu. Tiba-tiba sesuatu yang diharap Diana muncul juga walaupun sebenarnya tak ingin terjadi.
“Diana, apa yang terjadi dengan Amara?” tanya bunda Amara sedikit emosi melihat anaknya pingsan takberdaya. Diana hanya diam dan tertunduk gelisa sambil membopong tubuh Amara.
“Siapa, Ma? Amara?” muncul lelaki yang sudah paruh baya yang ternyata ayah Amara.
“Lihat keadaan Amara, Pa.Dia mabuk lagi,” terang bunda Amara sambil menarik tubuh Amara yang takberdaya dari tangan Diana.
“Em.., Tante sama Om nggak usah kuwatir Amara nggak pa-pa kok,” Diana mencoba menjelaskan.
“Tidak pa-pa gimana. Lihat apa yang sudah kamu lakukan sama anak, Om,” ayah Amara emosi.
Tiba-tiba tubuh Amara bergerak dan mulai sadar. “Ah.., udah diam semua. Diana nggak salah. Memangnya kalian ber-2 mikirin keadaanku, apa?” seru Amara membela sahabatnya dan langsung menyambar masuk ke rumahnya sambil melangkah gontai.
“Amara.. Amara..” teriak ayah Amara melihat kepergian anak tunggalnya dan sedikit taksadarkan diri.
“Kalau gitu saya pamit pulang dulu, Om sama Tante,” pamit Diana dan melihat ke-2 orang tua Amara tak menggubris. Ia langsung pulang.
***
Angin bertiup semilir menerbangkan helai-helai daun yang gugur. Meluruhkan kembang-kembang bungur ke rerumputan. Amara hanya diam termenung menduduki rerumputan yang segar. Dia memikirkan orang tuanya. Walaupun keluarga Amara sangatlah terpandang dan begitu kaya. Gadis ini tak pernah senang dengan kehidupannya. Terkadang dia iri melihat keharmonisan keluarga lainnya. Padahal diseberang sana banya orang yang menginginkan kehidupan Amara yang sangat tercukupi. Namun menurutnya kekayaan itu tidak menjamin kebahagiaan dalam sebuah keluarga. Berulang kali dia mencoba untuk membangun keharmonisan itu tapi selalu gagal. Ke-2 orang tuanya tidak pernah memikirkan dirinya hanya pekerjaan-pekerjaan dan pekerjaan. Sekarang Amara hanya terselimuti kesendiriannya tanpa sebuah keluarga disampingnya.
Kenangan masa lalu itu memang indah, memang cantik, tapi tidak untuk dikenang-kenang pada saat seperti ini. Saat ini yang diperlukan justru semangat dari orang yang ia sayang, semangat yang lahir dan hari-hari yang kian menyerupai rimba pelantaran yang harus dihadapi dengan senjata dan jiwa petualang, jiwa pejuang. Dan bukan dengan mengenang-ngenang masa-masa yang mudah, masa-masa ketika hidup kenikmatan. Ingin rasanya gadis ini mengulang masa dininya  yang lalu. Dengan penuh keharmonisan dan kasih sayang.
Tiba-tiba lamunan itu sirna ketika mendengar teriakan yang cukup menggema telinga. “Amara, kami mau pergi berangkat dulu ya. Mbok Mina udah menyiapkan sarapan kesukaan kamu di meja makan,” kata bunda Amara sambil mengecup ke-2 pipi gadisnya itu.
“Papa sama mama nggak sarapan bareng aku dulu?” tawar Amara sedikit merengek.
“Kamu nggak usah manja, Amara. Memangnya nggak bisa sarapan bareng mbok Mina saja. Kami ini sudah terburu-buru,” terang ayah Amara. Mendengar perkataan itu Amara hanya tertunduk murung.
“Pa, nggak usah kayak gitu,” seru bunda amara pada suaminya. “Papa kamu sayang baget sama kamu, cuman sekarang dia lagi sibuk aja. Jadi agak emosian gitu deh,” lanjutnya.
“Maaf perkataan papa barusan ya, sayang. Benar kata mama kamu, kami ber-2 sayang sama kamu. Papa janji setelah proyek perusahaan papa sama mama berhasil kita akan turuti apa yang kamu mau dan nanti kami akan makan malam bersama juga,” rayu ayah Amara pada gadisnya.
“Janji ya, pa?s” jawab Amara dengan nada memohon.
“Iya papa, janji. Asal kamu juga doakan kami,” seru nya sambil membelai Amra lembut.
“Kami berangkat ya, jangan lupa sarapan,” pesan bunda Amara sambil berjalan bersama suaminya menuju garasi. Dan mereka segera meninggalkan gadisnya yang tengah berdiri di halaman rumah.
Melihat kepergian orang tuanya Amara hanya memandang lesu, padahal ayahnya telah menjanjikan sesuatu padanya. Gadis itu masuk dengan berjalan gontai menuju meja makan. Disana terlihat mbok Mina yang tengah asik menyiapkan sarapan untuknya. Barbagai jenis makanan telah dihidangkan dan sepertinya makanan-makanan itu tengah menunggu akhir hayatnya tiba untuk disantap.
“Kenapa harus masak begitu banyak?” tanya Amara sambil memandangi satu persatu makanan yang ada dimeja.
“Saya juga tidak tahu, mbak. Ini semua perintah tuan,” jawab mbok Mina menjelaskan. Amara hanya mangut-mangut tanda mengerti.
“Kalau makanannya sebanyak ini aku nggak bisa habiskan sendiri, mbok. Gimana kalau mbok ikut makan juga sekalian temani aku makan disini?” tanya Amara seraya memohon.
“Saya mau-mau saja, mbak. Tapi makanan sebanyak ini juga tidak akan habis kalau hanya dimakan ber-2,” seru mbok Mina.
“Benar juga, ya. Kalau gitu panggil mang Udin juga deh, suruh ikut makan bareng,” kata Amara memecahkan masalah.
“Kalau gitu saya panggil dulu ya, mbak,” mbok Mina langsung pergi mencari mang Udin.
Tak lama kemudian mang Udin datang dengan berlari menuju Amara.
“Eh, mang Udin ikut makan juga yuks?” tawar Amara.
“Iya, mbak saya mau sekali,” jawab mang Udin supir Amara.
Mang Udin dan mbok Mina langsung duduk di samping Amara bersiap nyantap makanan. Melihat anak majikannya memulai makan mang Udin dan mbok Mina juga memulainya.
Krriiiing…. Dering bunyi telepon.
“Angkat, mbok,” perintah Amara. Mbok Mina langsung menyambar sumber bunyi yang telah mengganggu sarapan paginya.
“Ini dari mbak Diana. Katanya ada perlu sama, mbak Amara,” kata mbok Mina sopan sambil menyerahkan telepon rumah tanpa kabal pada Amara.
“Makasi ya, mbok,” Amara lembut dan meninggalkan sarapannya.
“Ada apa, Din? Pagi-pagi bolong udah nelpon?” tanya Amara pada suara dalam telpon itu.
“Aku dapat pengumuman kalau hari kuliah kita ditukar sekarang tepatnya jam sembilan pagi,” terang Diana.
“Kok mendadak gitu she?” Tanya Amara tak setuju.
“Udah nggak usah banyak ngomong. Pokoknya nanti kamu harus datang on time, okey. Aku tunggu di perputakaan kurang dari jam Sembilan,” potong Diana dan mematikan telepon. Amara hanya menghirup nafas panjang mendengar perkataan terakhir sahabatnya itu.
***
Mahasiswa-mahasiswi mulai berdatangan. Jam tangan Amara telah menjukkan pukul setengah sembilan tepat. Pancaran sinar matahari menyelinap masuk melalui kisi-kisi di tembok perpustakaan. Udara tak lagi sesejuk tadi. Berkas-berkas sengatan sinar matahari menghangatkan kulit. Sehangat sapa para mahasiswa yang telah akrab dengan gedung tua ini, dengan Amara, dengan rak-rak buku koleksi buku-buku setebal bantal yang turut membantu mereka menyalesaikan kuliah.
Gadis ini memang hampir tidak pernah absen mengunjungi gedung perputakaan. Tempat tua ini adalah tempat favoritnya. Namun, bukanya untuk membaca buku dan menambah ilmu melainkan untuk menemui sahabat karibnya. Amara bukan tipe cewek yang suka membaca apalagi buku bacaan dalam perpustakaan. Dia berani masuk ke tempat itu cuman karena Diana gemar sekali pergi ke gedung tua itu.
Amara melangkah ringan mencari sosok sahabatnya itu. Dia terus celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan menelusuri silempitan rak-rak buku. Akhirnya gadis itu bertemu juga dengan sosok yang ia cari. Tanpa berpikir panjang Amara langsung menghampirinya.
“Hey.., ke luar yuks aku udah nggak betah pingin muntah nih,” desah Amara sambil memegang pundak Diana. Melihat ekspresi sahabatnya Dian langsung berdiri dan segera menuruti permintaan Amara.
“Kamu bohong ya, sama aku?” tanya Amara emosi.
“Bohong apa sech?” Diana ganti bertanya.
“Kamu bilang sekarang ada jam kuliah tapi aku lihat di jadwal tetep kok, nggak ada yang berubah sama sekali,” terang Amara.
“Kita duduk di sana dulu aja deh, nanti aku jelasin,” kata Diana seraya menjelaskan sambil mengarahkan telunjuknya ke tempat yang dimaksudnya.
Mereka duduk di bawah rindangnya pohon bungur. Berbaur bersama kelompok-kelompok mahasiswa-mahasiswi yang juga tengah berangin-angin di taman.
“Aku emang bohongin kamu kok,”seru Diana santai. “Aku mau ceritaain sesuatu sama kamu. Tolong kamu jangan marah dulu, tahu sahabat kamu in udah bohongin kamu,” jelas Diana lembut.
“Emang mau cerita apa?”
“Kayaknya kamu harus cepet-cepet mutusin cowok kamu itu deh.”
“Maksud kamu Marvel? Emang kenapa sama dia?”
“Iya, Marvel. Dia itu cuman manfaatin kekayaan kamu aja, Mar.”
“Kamu ngomong apa sech?” Amara mulai emosi.
“Kamu tenang dulu, aku cerita ini sama kamu biar kamu ngak salah nilai Marvel dari luarnya aja. Dia itu buaya darat. Udah banyak cewek yang dia manfaatin kekayaannya. Sekarang aja dia udah punya ceweklain selain kamu, Mar,” terang Diana.
“Jadi kamu suruh aku ke sini cuman mau ngomong hal yang nggak penting ini? Nggak ada gunanya tahu. Kamu cuman buang-buang waktuku aja. Kamu juga nggak punya buktikan atas semua perkataanmu?” seru Amara ngetes. Dia langsung menyambar pergi meninggalkan Diana tanpa mendengar penjelasan sahabatnya.
“Amara.. Amara.. Amara tunggu, Mar.. Terserah kamu, kamu mau percaya apa enggak,” teriak Diana.
Amara tak habis pikir mendengar perkatan yang barusan dilontarkan dari mulut Diana. Sekarang isi kepalanya sangat berantakan. Dia melangkah gontai menuju parkiran. Dimana tempat ia meletakkan si merah, mobil sedan pribadinya. Gadis ini langsung menaiki mobilnya dan entah mau pergi kemana untuk menenangkan dirinya. Saat ini Amara memang butuh tempat untuk sendiri.
***
Senja ini kelihatan lebih gelap dari biasanya, padalah baru pukul setengah enam sore. Langit di sebelah barat nampak agak mendung. Amara bukanya melangkah cepat. Namun ia malangkah dengan tak henti-hentinya melamunkan dan memikirkan perkatan Diana. Perkataan itu terus menyelimuti pikirannya.
Pekarangan rumah yang luas dan lengang menyambut kepulangannya seja itu. Amarapun memasuki rumahnya yang seperti istana kosong tanpa penghuni. Disana terlihat ada mbok Mina yang tengah asyik menyiapkan makan malam di ruang tengah.
“Sore, mbak,” sapa hangat mbok Mina dengan senyum lebarnya. Amara hanya membalas dengan senyuman lelahnya.
“Oh iya, mbok. Papa sama mama nggak nelpon beri tahu pulang jam berapa?” tanya Amara sedikit berharap.
“Tadi sudah nelpon, mbak. Katanya mungkin tuan sama nyonya pulang pagi. Kemungkinan besar katanya nggak jadi makan malam bersama,” terang mbok Mina lesu melihat raur muka anak gadis majikannya yang ditekuk. Tanpa menjawab Amara langsung menaiki tangga menuju kamarnya, dimana dia bisa bersendiri.
“Mbak nggak makan dulu?” tanya mbok Mina. Sebelum meninggalkan pembantunya Amara hanya menoleh dan menggelengkan kepala. Mbok Mina mengerti benar bagaimana perasaan Amara setelah melihat raut muka Amara.  
Didalam kamar Amara hanya duduk lesu memandangi album foto masa kecilnya. Dimana saat itu dia selau mendapat kasih sayang penuh. Tetesan demi tetesan air matanya mengalir keluar. Gadis ini tidak tahu apa yang bisa dia lakukan setelah mendengar perkataan Diana dan sekarang ke-2 orang tuanya membatalkan janjinya untuk makan malam bersamanya.
Malam terus merayap, dan pagi sesaat lagi datang menjelang, semantara gadis itu tetap tersungkur di kamar tidurnya. Menangis berteman bantal. Kisah indah makan malamnya kemarin yang dikhayalkannya tak pernah menjadi kenyataan. Angan-angannya tetap menjadi segumpal awan semu di atas langit yang jauh.
“Kalau aku tidak menuruti perkataan kamu pasti semuanya nggak jadi kayak gini,” teriak ayah Amara.
“Kamu jangan terus-terusan nyalahin aku. Kamu juga menyepakati janji itu bukan?” balas bunda amara tak kalah kerasnya.
Pertengkaran itu membangunkan anak gadisnya yang tengah tidur sejenak. Mendengar itu Amara langsung turun kebawah dan menghampiri ke-2 orang tuanya.
“Pagi-pagi kalian udah berantem, ada apa sech?” tanya Amara emosi.
“Proyek papa hancur. Semuanya gagal total,” terangnya keras. “dan tak lama lagi rumah kita dan seluruh isi barangnya akan disita pihak bank. Kami ber-2 bangkrut,” lanjutnya sambil menurutkan nada bicara.
Amara hanya diam mendengar penjelasan ayahnya. Ke-2 orang tuanya menangis dan sangat terpukul dengan apa yang telah menimpa mereka. Tiba-tiba datang sekelompok pihak bank memerintah ke-2 orang tua amara dan Amara untuk segera mengangkan kaki dari sana. Mereka tak bisa berkata apa-apa, merekapun langsung membereskan barang-barang mereka yang boleh dibawa dan segera meninggal kan rumah yang seperti istana itu.
Entah apa yang telah menimpa keluarga Amara. Berturut-turut gadis itu mendapat musibah dan sekarang menimpa keluarganya. Mereka lengsung mencari rumah yang dapat disewanya. Akhirnya tak jauh dari kampus Amra mereka menemukan rumah yang dapat mereka sewa. Walu rumah itu tak begitu besar bagi ke-2 orang tua Amara namun mereka sangat senang telah mendapatkannya. Pemilik rumah itu juga cukup baik. Beliau mengijinkan keluarga Amara tinggal tanpa membayar uang muka.
“Kami sekeluarga sangat berterima kasih atas kebaikan ibu ini,” seru bunda Amara senang.
“Anggap saja saya telah membalas budi kepada gadis ibu dan bapak yang telah menyalamatkan semua isi tas saya dari perampok,” bu Nensi pemilik rumah menjelaskan.
“Iya, ma, pa. Kemarin aku tabrakkan sama perempok yang mbawa tasnya bu Nensi. Jadi kebetulan aja aku bisa nyelameti tas bu Nensi,” ujar Amara. Ke-2 orang tuanya hanya menundukkan kepala tanda mengerti.
“Ya sudah, bu, pak. Saya tinggal dulu silahkan menata barang-barangnnya,” bu Nensi mempersilahkan dan pergi meninggalkan keluarga Amara.
“Sudah, ayo masuk. Banya pekerjaan yang harus kita selesaikan bersama,” potong ayah Amara masuk kedalam rumah dan membawa barang-barang dari rumah yang telah disita oleh bank.
***
“Jadi sekarang kamu nyawa rumah?” tanya Diana nggak percaya.
“Iya. Rumahku yang kayak istana kosong dan seluruh isinya udah disita bank,” jelas Amara enteng.
“Gila,” seru Diana semakin tidak percaya. “Terus kamu betah tinggal disitu? Setahu aku rumah sewaan itukan kecil, apalagi kamu tinggal ber-3?” lanjutnya.
“Kalau masalah itu nggak usah dipikirin repo-repot. Ke-2 orang tuaku juga nggak begitu mikirin. Sekarang yang paling penting hidupku nggak penuh kesendirian. Mereka ber-2 udah sadar. Dan hidupku penuh dengan kasih sayang dan keharmonisan. Aku berjanji tidak akan merubah semua sikapku yang selama ini membuat mereka sakit. Kekayaan memang tidak menjamin kabahagiaan. Mulai sekarang aku akan berjuang untuk meraka, ” terang Amara gembira.
“Wah.., sekarang snow white udah punya 7 kurcaci dong. Aku ikut bahagia kalau dengar kamu juga senang,” Diana senang sambil memeluk Amara.
“Eh, enak aja kamu ngatain orang tuaku jadi kurcaci,” bentak Amara becanda.
“Oh, iya. Sorry sorry, nggak sengaja.”
“Nggak pa-pa kok. Aku juga minta maaf soal yang kemarin. Aku udah bentak-bentak kamu,” seru Amara manja sambil memeluk sahabatnya.
Tiba-tiba keharmonisan itu menghilang akibat datangnya kehadirang seseorang.
“Oh, ternyata kamu ada disini,” kata Marvel emosi.
“Marvel? Kamu kenapa?” tanya Amara bingung.
“Sekarang kita putus titik,” jawab Marvel membalik badan meninggalkan Amara.
“Tunggu, Vel,” seru Amara seraya berlari dan menarik tubuh Marvel. “Maksud kamu apa?” tanyanya.
“Iya, kita putus. Kamu udah jatuh miskinkan?” tanya Marvel ngetes.
“Kamu tahu dari mana?”
“Semua udah tahu dan sekarang aku minta kita putus.”
“Memang kenapa kalau aku jatuh miskin? Apa itu berpengaruh dengah hubungan kita?”
“Itu sangat berpengaruh. Memangnya selama ini kamu belum tahu kalau aku nggak serius sama kamu? Kasihan banget, ya,” seru Marvel merendahkan Amara.
“Berarti selama ini kamu cuman manfaati kekayaanku aja?” tanya Amara sambil meneteskan air matanya.
“Ya iyalah,” jawabnya enteng. Tiba-tiba seseorang gadis datang dan membawa Marvel pergi meninggalkan Amara. Amara hanya diam termenung menatap kepergian Marvel.
Diana berlari menghampiri sahabatnya setelah melihat kejadian yang telah dialami Amara.
“Kamu nggak usah sedih, Mar. Ada aku kok,” kata Diana menenangkan sambil memeluk erat sahabatnya.
Senja begitu cerah. Angin semilir menemani. Namun tak secerah perasaan Amara. Bertubi-tubi gadis ini selalu mendapat musibah. Hancur sudah hatinya. Sosok yang ia cinta telah meninggalkannya. Yang tersisa hanya seberkas kenangan. Tetesan demi tetesan air matanya terus terjatuh membasahi pipi gadis itu. Pupus sudah harapannya. Dia meninggal dirinya dengan alasan yang tak enak.
***
“Amara, kamu udah nggak pa-pa?” tanya Diana heran melihat sahabatnya.
“Emangnya harus ya, kalau seorang gadis terus-terusan nangis dijendela meratapi kehidupannya?” Amara ganti nanya dengan nada ngetes.
“Nggak gitu, Mar. Aku malah senang ngelihat kamu bisa masuk kuliah lagi kok. Tapi... em.. masalah yang waktu itu..,” bicara Diana sedikit tersendat takut sahabatnya teringat kembali.
“Kenapa? Aku udah nggak mikirin lagi kok. Masih banyak cowok diseberang sana yang masih menunggu si snow white, kayak aku,” jawab Amara santai.
“Amara..,” Diana memeluk sahabatnya.
Pagi itu udara masih begitu segar. Pancaran sinar matahari belum begitu terpancar. Gundukan tanah terlihat basah terkena tetesan embun malam. Hari itu memang beda dari biasanya. Semangat Amara telah muncul berapi-api. Gadis itu tak lagi diselimuti rasa kesedihan.
“Jadi, kamu datang pagi-pagi bolong kayak gini cuman mau ngelamar kerjaan?” tanya Diana. Amara hanya menggut-manggut.
“Aku kasihan melihat orang tuaku berdagang rujak. Makanya aku mau minta tolong sama kamu untuk mbantu aku cari kerja. Aku juga nggak bisa terus-terusan nangis dijendela karena masalah waktu itu. Semua itu nggak nyelesaiin masalah malah membuat ke-2 orang tuaku sedih. Jadi, plis tolong aku ya,” terang Amara murung.
“Gitu ya. Aku juga nggak tahu tempat lowongan kerjaan yang pantas buat kamu, Mar.”
“Terserah pekerjaan apa aja deh yang penting halal.”
“Ceiyleh.., gaya mu, Mar-Mar.”
“Aku serius, Din. Aku butuh kerjaan banget. Kasihan ke-2 orang tuaku,” harap Amara makin murung.
“Kalau gitu kamu datang aja ke perusahaan teman orang tuaku, Mar. Aku dengar mereka mbutuhi sekertaris baru.”
“Okey aku mau. Dimana?” tanya Amara semangat.
“Ntar aku ambil dulu alamat perusahaannya,” kata Diana menyambar masuk kedalam rumahnya. “Ini alamatnya,” Diana menyodorkan kertas kecil kearah Amara.
“Makasih banyak ya, Din,” jawab amara senang.
“Ya udah sana buruan pergi nanti keduluan,” seru Diana. Amarapun langsung pergi meninggalkan Diana.
***
“Jadi, disini kantornya.” seru Amara sambil celingak-celinguk.
Saat amara berjalan perlahan mendekati kantor itu. Tiba-tiba dia mendengar teriakan seorang wanita.
“Tolong-tolong. Tas saya dijambret. Tolong..,” teriak wanita itu.
Tak sengaja penjambret tas itu menabrak Amara. Dia langsung memukuli jambret itu sekuat tenangga. Namun penjambret itu berhasil meloloskan diri. Untungnya tas itu berhasil didapatkan Amara.
“Siapa pencurinya?” kata seorang laki-laki mendekat bersama wanita pemilik tas itu.
“Itu tas saya, pak,” seru wanita itu menunjuk tas yang dibawa Amara.
“Jadi kamu pencurinya?” lelaki tinggi itu memarahi Amara.
“Bukan saya pencurinya,” Amara membela.
“Sudah jangan banyak bicara. Serahkan tas itu,” perintah lelaki itu. Amara langsung memberikan tas itu. Lelaki itu dan wanita pemilik taspun segera pergi meninggalkan Amara. Amara hanya diam melihat kepergian mereka. Dan segera memikirkan tujuannya kesana.
Gadis itupun segera masuk dan bertanya pada resepsionis disana. Pegawai itupun langsung mengantarkan Amara keruang kepala kentor.
 “Mari masuk, mbak. Boss saya sudah ada didalam,” seorang resepsionis mempersilahkan dan membukakan pintu.
“Makasih ya, mbak,” jawab Amara sopan.
“Permisi, pak. Saya mau mendaftarkar diri menjadi sekertaris baru disini,” sapa Amara lembut. Lelaki itu langsung membalikkan badan dan melihat Amara.
“Bukannya kamu pencuri tas milik pegawai saya?” tanya lelaki itu marah setelah meliha muka Amara.
“Maaf ya, Ppak. Saya tegaskan sekali lagi, saya bukan pencuri tas pegawai anda. Dan kalau saya tahu kepala kantor ini anda, saya tidak akan mau melamar kerja disini,” jawab Amara tak kalah keras.
“Lagian siapa juga yang mau menerima anda disini. Saya tidak suka mempunyai pegawai, pencuri, pembohong, dan sok seperti anda,” lelaki itu semakin emosi. Tanpa menjawa Amara langsung berlari dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Langit begitu gelap. Terselimuti awan-awan gelam Seakan tahu perasaan Amara. Gadis itu hanya duduk termenung ditepian kolam. Memikirkan nasibnya dan keluarganya yang kian menyiksa memang sangat menyakitkan. Puluhan kerikil ia lempar masuk ke dasar air. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Begitu sakit hatinya mendengar lontaran mulut lelaki tadi yang sangat menusuk. Tetesan demi tetesan lagi air matanya jatuh dan membasahi sekujur mukanya.
“Gadis cantik sepertimu tidak pantas menangis ditepian kolam seperti itu. Diam termenung sambil melempar bebatuan ke dasar air. Nggak ada gunanya tahu. Itu semua tidak menyelesaikan masalah. Air matamu sangat mahal harganya bila cuman digunakan untuk menangis,” seru lelaki yang tiba-tiba hadir disamping Amara. Amara hanya diam dan tak menggubris perkataan itu.
“Sudah hapus air matamu dengan sapu tanganku,” lanjutnya sambil menyudorkan saputangan miliknya ke Amara.
Amara langsung membalikkan badan dan melihat sosok yang ada didekatnya. “Kamu? Ngapai kamu kesini?” teriak Amara marah.
“Aku kesini mau minta maaf sama kamu. Sorry udah mbuat gadis cantik sepertimu menangis ditepian kolam. Aku tahu aku salah. Sudah jangan menangis dan hapus air matamu itu,” kata lelaki itu kalem.
“Aku nggak nangis kok,” jawab Amara sambil menghapus air matanya.
“Ke datanganku kesini mau menerimamu mejadi sekertarisku. Aku sudah mendapatkan penjelasan dari pegawaiku, kalau bukan kamu pencuri tas itu. Melainkan kamulah yang menyelamatkannya. Seandainya saja kamu tidak ada pasti semua isi dokumen penting perusahaanku yang ada di tas itu akan lenyap. Bila kamu bersedia menjadi sekertarisku. Besok datanglah pagi-pagi ke ruangan kerjaku,” seru lelaki itu dengan bijaksana. Dan ia langsung pergi meninggalkan Amara.
“Tunggu, jangan pergi dulu,” potong Amara pelan membuat lelaki itu menghentikan langkahnya.
“Apa?”
“Aku juga mau minta maaf sama kamu atas semua sikapku.”
“Kamu nggak perlu minta maaf aku yang salah udah membuatmu menangis. Dan yang terpenting aku sudah berkata kasar dan tidak benar padamu,” jawab lelaki itu lembut. Amarapun tersenyum mendengarnya.
“Nggak usah senyam-senyum, jelek tahu. Oh, iya. Jadi apa kamu mau menjadi sekertarisku?”
“Em.. gimana ya..,” seru Amara berpikir panjang.
“Nggak usah pake basa-basi deh. Besok aku tunggu kamu di ruanganku,” potong lelaki itu. Amara langsung diam dan cemberut, menatap tanah. “Dari tadi aku belum tahu nama kamu ya. Nama kamu siapa? Aku Afan,” lanjutnya sambil menyodorkan tangan kanannya ke amara.
“Namaku Amara,” Amara menggenggam sodoran itu. Afan diam dan termenung mendengar nama itu disebut.
“Amara? Nama kamu Amara?” tanya Afan beloon.
“Iya namaku Amara. A..M..A..R..A..,” Amara mengeja.
“Nama kamu Amara. Benar nama kamu Amara?”
“Emang kenapa kalau namaku Amara? Ada masalah?”
“Eng..nggak ada,” potong Afan tegas. “Em.., nama kamu sama kayak calon isteriku.”
“Calon isteri?” Amara ganti beloon.
“Iya. Tapi dia udah pergi ninggalin aku selamanya.”
“Kalau boleh tahu kenapa?” tanya Amara pingin tahu.
“3 hari sebelum menikah, aku sama dia kecelakaan tertabrak trek. Tapi sayang dia tidak terselamatkan,” terang Afan gemetar.
“Aduh.., maaf ya. Aku nggak tahu,” Amara bersalah.
“Nggak pa-pa. Kamu nggak salah. Hidup memang seperti panggung sandiwara. Jadi, kita harus selalu menghadap ke depan melihat nasa depan kita. Aku juga nggak boleh tetap terpuruk dalam kesedihanku. Iya-kan?” seru Afan memulihkan kebali nada suaranya.
“Iya, itu memang benar,” potongng Amara bersemangat.
“Hebat banget dia bisa berdiri sendiri dengan keterpurukannya yang begitu dalam. Dibalik sosok lelaki keras ini memang tersimpan hati yang sangat muliah. Aku sudah salah menganggap dia,” batin Amara sambil memandangi Afan penuh seksama.
“Heh.. nggapai kamu ngeliati aku?” getak Afan membuat Amara tersentak kaget.
“Nggak pa-pa.”
“Kelihatannya mau turun hujan nih. Aku antar pulang yuk?” tawar Afan. Amara diam dan memikirkan jawaban untuknya.
“Nggak usah kelamaan mikir deh. Ayo aku antar pulang. Kamu udah jadi bawahan aku. Jadi, aku juga harus memikirkan dirimu. Nanti keburu hujan. Aduh, ayo,” tanpa menunggu jawaban Amara, Afan langsung menarik gadis itu dan membawanya masuk kedalam mobilnya.
Tak lama kemudian samailah mereka di rumah kontrakan Amara.
“Itu rumahku,” tunjuk Amara keluar. Gadis itu langsung keluar dari mobil Afan.
“Makasih, ya.”
“Iya. Udah sana masuk. Besok pagi jangan lupa datang ke kantor. Salam buat keluargamu, ya,” jawab Afan lembut.
“Okey,” jawab Amara mengangkat ibu jarinya. Dan masuk ke rumah, meninggalkan Afan. Lelaki itupun langsung pergi.
“Pa, ma. Coba tebak ada kabar gembira apa ayo?” tanya Amara bersemangat.
“Apa ya, mama nggak tahu ni. Papa tahu nggak?” bunda Amara ganti nanya.
“Papa juga nggak tahu sayang. Memangnya apa sampai membuat kamu ceria sekali?”
“Aku di terima kerja, pa. Dan paling hebatnya aku diterima jadi sekertaris ketua kantor. Hebatkan,” seru Amara sambil menepukkan tangan.
“Wah.., hebat sekali,” jawab ayah Amara sambil memeluk gadisnya.
“Terus tadi yang antar kamu pulang siapa?”
“Boss baru aku. Dia baik banget lo, ma.”
“Memangnya nama boss kamu itu sapa?”
“Afan,” singkat Amara.
“Dari namanya kayaknya dia tanpannya?” tanya bunda Amara menggoda.
“Lumayan sech, ma. Tapi bukan tipeku,” Amara gengsi.
“Tapi sayang, jaman sekarang banyak orang yang kepencut cinta lokasi sama bossnya sendiri. Jadi, kamu bisa jugakan?” goda bunda Amara
“Ih.., mama.” Amara mengelitik perut bundanya.
“Sudah-sudah. Jadi mulai sekarang Amara harus tunjukkan keseriusan kerja Amara pada boss Amara itu. Okey,” seru ayah Amara bijak. Amarapun menganggukkan kepalanya dan tersenyum tulus.
Kekayaan memang tak menjamin kebahagiaan. Buktinya kesederhanaan keluarga Amaralah yang membuat keharmonisan itu tumbuh. Gadis itu tak lagi menangisi kesendiriannya. Karena telah hadir sebuah keluarga yang selalu mewarnai hidupnya.
***
“Silahkan masuk, mbak. Pak Afan sudah menunggu anda didalam,” pegawai itu mempersilahkan dan membukakan pintu. Gadis itu langsung masuk ke dalm ruangan Afan.
“Akhirnya kamu datang juga. Lumayan pagi untuk seorang pegawai baru disini, yah bagus. Ayo duduk  dan dengarkan aku baik-baik,” perintah Afan. “Tugasmu disini adalh mencatat dan merekaulang semua kegiatan-kegiatan kantor. Yang terpenting kamu juga menjadi asisten kepercayaanku. Kau dengar dan bisa dimengerti?”
“Iya, aku mengerti. Kalau boleh tahu ruangan kerjaku dimana?”
“Ayo ikuti aku.” Amara langsung mengikuti perintaha Afan. “Disini ruangan kerjamu,” tunjuk Afan disuatu ruangan. Gadis tersenyum dan mengawasi disudut-sudut ruangan.
“Aku tinggal dulu. Selesaikan semua pekerjaanmu,” Afan meninggalkan ruangan itu.
            Mendapat ruangan pribadi dari kantor dan tempat itu ber-AC. Wah.., enak. Itulah yang dirasakan amara saat ini. Gadis yang dulunya berkepribadiaan manja dan suka minta-minta tanpa berusaha. Sekarang telah menjadi seorang yang benar-benar bijak. Demi kebahagiaan kelurganya, dia rela berkerja keras. Walau permulaannya meamang sangatlah sulit. Namun, sekarang semuanya telah tercapai dengan mudah. Hanya inilah yang bisa dia wujudkan kepada ke-2 orang tuanya. Selalu bekerja keras dan takpantang putus asa.
            “Kamu udah selesai?” tanya afan yang tiba-tiba masuk ke ruangan Amara.
            “Ini udah hamper selesai.”
            “Udah hamper jam makan siang nih. Temannin aku yuk?”
            “Belum bisa, pak. Pekerjaan saya belum selesai. Ini saja belum saya koreksi benar atau salah.”
“Udah tinggalin aja dulu. Masalah itu gampang nanti bisa aku bantu. Kasihan perutmu belum terisi dari tadi,” Afan perhatian.
“Nggak usah, pak. Saya bisa pergi cari makan sendiri.”
“Kamu bisa makan sendiri tanpa orang disampingmu. Tapi aku nggak bisa sendirian, Mar. Lagian apa-apaan she kamu panggil aku dengan sebutan, pak. Aku ini masih muda. Nggak pantas dipanggil, Pak,” seru Afan sedikit marah.
“Maaf, pak. Bukan maksud saya ngatain bapak tua atau apa,” jawab Amara bersalah.
“Aku ngerti kamu, pasti kamu ikut-ikut pegawai disinikan?”
“Iya. Tapi bukankah itu benar kalau seorang bawahan memanggil atasannya dengan sebutan, pak?”
“Itu memang benar. Tapi aku minta kamu panggil aku cukup dengan Afan aja, nggak usah pak-pak-an,” seru Afan gemas.
“Iya, pak. Eh..,” Amara menutup mulutnya. “Maksud saya, iya, Fan,” seru Amara malu.
“Siip, bagus. Kalu gitu ayo temani aku makan siang. Jangan banyak alasan,” potong Afan menarik tangan Amara.
***
“Makasih ya, mbak,” kata Amara lembut sambil tersenyum pada pegawai restoran yang sedang menyodorkan makanan.
“Kamu suka sayuran?” tanya Afan heran.
“Iya. Dari kecil aku udah dibiasahin makan sayuran hijau.”
“Berarti aku bisa sebut kamu cewek vegetarian dong?” Amara hanya tersenyum mendengarnya. “Emangnya kenyang kalau cumin makan gituan aja? Sekarangkan udah siang?”
“Kenyang kok. Perutkukan kecil nggak kayak..,” Amara berhenti.
“Kayak aku gitu maksudnya,” potong Afan sambil bernafas panjang dan membuangnya perlahan.
“Aku nggak bermaksud nyindir kamu kok,” jawab Amara lugu dan tersenyum lucu.
“Ra, salah nggak kalau aku coba membuka hatiku untuk seorang cewek dan mulai melupakan Amara, calon isteriku?” tanya Afan dengan tatapan serius sampai membuat Amara berhenti mengunyah dan mulai serius menatap Afan.
“Kalau menurutku wajar-wajar aja kok. Itu malah kemajuan bagus. Soalnya jelek kalau kita terus menutup hati kita untuk orang lain,” Amara menjelaskan dengan santai.
“Wajar ya,” Afan manggut-manggut. “Kalau cewek itu kamu. Kamu mau nggak?” lanjutnya membuat Amara terkejut mendengarnya.
“Maksud kamu?” Amara bingung.
“Woiy.., aku cumin becanda,” teriak Afan sambil tertawa keras. Amara langsung cemberut. “Mana mungkin kalu aku bisa suka sama cewek kaya kamu, Ra. Berharap banget sech kamu,” lanjutnya sambil memukul dahi Amara pelan. Amara makin cemberut melihat ulah Afan yang semakin menyebalkan.
“Eh, sorry-sorry. Aku cuman becanda aja kok. Jangan marah dong putrid snow white-ku yang cantik,” goda Afan. Amara langsung tersendak kaget mendengar sebutan snow white.
“Apa? Kamu panggil aka snow white?”
“Iya, emang kenapa?” Afan bermuka beloon.
“Kamu kok tahu sech kalau itu sebutan namaku? Itu-kan nama kecilku?” Amara heran.
“Nama kecil kamu? Itu juga sebutan nama kecil dari calon isteriku, si Amara. Kok bisa sama sech?” Afan kaget.
“Kamu bohongkan? Mana mungkin bisa sam terus-terusan kayak calon isteri kamu itu,” Amara sedikit emosi.
“Sumpah, aku nggak bohong,” jawab Afan sambil suer.
“Ah, udah nggak usah dibahas,” potong Amara.
“Aku juga nggak bakal bahas itu lagi kok. Tapi maafin aku ya. Udah buat kamu marah. Ya udah terusin makanya,” seru Afan bersalah.
Tak lama kemudian makanan yang ada dimeja sudah habis itu menandakan kalau makan siang mereka telah usai.
“Ra, kamu masih marah sama perkataan aku tadi?” tanya Afan pelan sambil berjalan keluar bersama Amara.
“Nggak kok. Aku nggak marah. Mungkin aja semua persamaan itu cuman kebetulan,” jawab Amara lembut dan tersenyum lembut pada Afan.
“Aku jadi seneng kamu bisa maafin aku,” Afan membalas senyuman itu. “Aku udah lama nggak makan es krim nih. Mau anterin aku bentar nggak?” tunjuknya pada penjual es krim.
“Bukannya kita harus kembali ke kantor?”
“Kamu itu kok mikirin kerjaan terus aja sech? Nggak capek apa? Lagian atasannyakan aku. Jadi kamu nggak usah bingung-bingung deh. Tenang aja. Udah ayo,” Afan langsung menarik tangan Amara dan menuju penjual es krim keliling itu.
“Enakkan?” tanya afan. Amara hanya tersenyum sambil menjilati es krimnya.
Afan melihat sisa krim cokelat di bibir kanan Amara. Dengan sigap, lelaki itu langsung membersihkan sisa kris itu dengan tangannya. Sontak ke-2 insan ini saling bertukar pandangan. Selama beberepa detik mereka terus diam mematung seperti itu.
“Eh, sorry,” Afan sadar dan melepaskan tangannya. Amara diam dan tersipu malu.
“Nggak pa-pa kok,” jawab Amara sambil membersihkan sisa krim es-nya yang masih tersisa.
“Ya udah deh aku antar pulang yuk?” tawar Afan.
Didalam mobil mereka diam membisu. Entah apa yang terjadi pada ke-2 insani ini. Tak terasa sampailah didepan rumah Amara. Amara langsung turun dan masuk ke rumah. Tiba-tiba Afan melihat ayah Amara keluar dari samping rumahnya. Lelaki itupun langsung turun dan menghampiri ayah Amara.
“Bapak? Bukankah bapak, pak Andi?” tanya Afan.
“Iya saya Andi. Kalau boleh tahu anda siapa?” ayah Amara ganti bertanya.
“Saya Afan, pak. Saya atasan dari anak bapak,” jawab Afan sambil menyodorkan tangannya.
Ke-2 pria ini terjebak dalam pembicaraan serius. Entah telah berapa lama mereka ber-2 terus bercakap-cakap tentang perusahaan ayah Amara yng tiba-tiba bangkrut. Saat itu Afan menceritakan semua permasalahan mengapa perusahaan itu bangkru seketika. Ternyata ada kesalah pahaman antara ayah Amara dengan lawan kerjanya. Lawan kerja ayah Amara telah menipu dirinya. Itulah penyebab kebangkrutan perusahaannya.
“Jadi begitu ceritanya,” kata ayah Amara mengerti.
“Iya, pak. Selama ini saya mencari keberadaan bapak untuk mengatakan yang sebenarnya. Seandainya saya tahu kalau anda ayah dari Amara, pasti saya akan mengatakan ini secepatnya,” Afan berkata bijak.
“Terimakasih atas semua penjelasan nak Afan. Kalau saja nak Afan tidak mengatakan semua ini pasti nasib keluarga saya akan terus dikejar utang seperti ini,” ucap ayah Amara senang.
 “Sama-sama, pak. Oh, iya. Mungkin rekaman ini bisa membantu bapak ketika bapak menjelaskan nanti didepan semua rekan kerja bapak,” Afan menyerahkan perekan suara pada ayah Amara.
“Kalau begitu saya sangat terimakasih atas semua ini nak Afan. Ayo mari masuk ke dalam,” ajak ayah Amara.
“Tidak usah, pak. Saya sangat terburu-buru. Saya langsung pulang saja, pak,” pamit Afan.
***
Malam ini begitu sunyi menusuk hati. Sunyi gelap memanjang menyelubung. Berangsur lenyap disinari bintang dan rembulan. Tiada jemu mata memandang menatap langit berbayang sang pujaan. Dinginya hembusan angin malam membekukan tubuh. Memikirkan lelaki yang telah membuat harinya penuh warna. Mungkinkah ini yang tengah Amara pikirkan.
“Mungkinkah ini terjadi?” tanyanya dalam hati dan tersenyum sendiri.
“Selamat tidur, boss,” lanjutnya.
Diseberang sana terlihat lelaki yang dipikirkanya yang tengah sama memikirkan itu.
“Selamat tidur juga, Ra,” serunya tersenyum.
Seakan mereka ber-2 saling berbicara bertatap muka. Tak lama setelah itu ke-2 insan ini terlelap dalam tidurnya dan bermimpi sang pujaan hatinya.
***
Pagi itu di kantor Amara tak melihat Afan, sosok pujaannya. Berkali-kali ia bertanya dimana keberadaan sang boss-nya, namun tak satupun pegawai yang melihatnya. Hari itu Amara hanya terus didalam ruangannya melakukan pekerjaan yang selalu menanti dirinya. Terkadang Amara keluar dan mengintip ruangan Afan. Melihat apakah sosok yang dinantinya sudah datang. Begitu pula hari-hari selanjutnya, lelaki itu tak lagi datang. Afan telah pergi meninggalkan dirinya. Tak ada lagi yang menemani dan mewarnai hidup gadis ini. Padahal lelaki itu telah berjanji akan menjadi sahabat Amara sehidup semati. Dan akan selalu membuatnya bahagia.
“Mungkin Afan memang ada kerjaan mendesak jadi ia tak bisa masuk kerja sekarang,” bantinnya menenangkan dirinya sendiri.
Matahari semakin tinggi. Halte kian sesak oleh puluhan, bahkan ratusan manusia yang mempertahankan nasibnya dan menunggu bis kota. Dan Amara adalah satu di antara mereka. Yang tak tahu apa yang akan terjadi nanti, besok, dan besok lagi. Yang dia pikirkan sekarang hanya keluarganya dan Afan,
Sesampainya didalam rumah. Gadis ini disambut dengan bundanya yang tengah menyapu ruang tengah rumah.
“Amara, sudah pulang nak? Kalu capek mama sudah buatkan kamu teh dingin didalam kulkas,” seru bundanya dan tersenyum lembut.
“Makasih ya, ma. Aku memang sedang capek berat,” jawab Amara santai dan menyambar mengambil teh dingin buatan bundanya.
“Ma, papa mana? Dari tadi kok aku nggak lihat ya?” tanya Amara sambil menyruput minumannya.
“Tadi papa kamu bilang kalau dia ada urusan mau menyelesaikan masalahnya di kantornya dulu,” jelas bunda Amara. Gadis itu hanya menunduk tanda mengerti dan meneruskan meminum minumannya.
“Mama, Amara. Ada kabar gembira,” teriak ayah Amara berlari masuk rumah.
“Ada apa, pa? Lihat gara-gara papa masuk lantainya jadi kotor lagi,” tanya bunda Amara sedikik marah.
“Lihat, diluar ada pihak bank dan rekan kerja papa yang akan mencabut semua barang kita yang disita,” terang ayah Amara bersemangat sambil menujukkan tamu mereka diluar. Lelaki separuh baya itu langsung menarik tangan isterinya dan anak gadisnya keluar rumah untuk menemui tahunya.
“Kami dari pihak bank akan mencabut semua barang kalian semua yang sudah salah pihak kami sita,” terangya tegas.
Tanpa banyak basa-basi keluarga Amara langsung diantarkan kembali ke rumah mereka yang seperti istana itu. Sesampainya disana, rekan kerja ayah Amara langsung menjelaskan kesalah pahamannya dan dengan hormat meminta maaf kepada keluarga Amara. Ke-2 orang tua Amara sangat senang mendengar itu. Namun tidak dengan Amara.
“Kalau begitu saya harap bapak Andi bisa bekerja kembali membangun perusahaan kita,” serunya sambil menyodorkan tanda persetujuan.
“Aya, pak. Saya juga minta maaf telah lalai mengurus perusahaan selama ini, pak,” jawab ayah Amara tegas dan menggenggam tangan rekan kerjanya, tanda setuju.
“Kalau begitu saya langsung pamit pulang,” lanjutnya meninggalkan keluarga Amara.
***
“Kau senangkan melihat semuanya kembali normal, Amara?” tanya ayahnya saat sarapan bersama. Amara tak menjawab malah menampakkan muka cemberut.
“Lo, kenapa cemberut, sayang?” tanya bunda Amara.
“Aku takut kalian ngelupain aku lagi dan selalu memikirkan pekerjaan-pekerjaan dan pekerjaan,” jelas Amara murung.
“Sayang, kami janji tidak akan mengulangi itu lagi. Boss kamu itulah yang sudah membantu papa selama ini dan mengembalikan semuanya. Dia berkata, dia sangat mencintai dan menyayangi dirimu. Namun ia tak berani mengatakannya. Menurutnya kamu hanya menganggap dirinya sebagai seorang sahabat dan layaknya seorang atasan. Jadi, papa akan mengikuti semua perkataannya. Yang salah satu adalah ingin membuatmu bahagia,” ayah Amara menjelaskan tulus.
“Jadi, semua ini atas bantuan Afan?” ayah Amara mengangguk. “Lalu mengapa beberapa hari ini aku tidak menemukan dirinya? Papa tahu dimana, dia?” tanya Amara berharap.
“Iya, semua ini atas bantuannya. Dia hanya berkata pada papa. Bila kamu telah mendapatkan semua yang kamu inginkan dan akan bahagia selamanya. Afan akan meninnggalkan dirimu,” lanjut lelaki separuh baya itu. Amara hanya mendengarnya dan perlahan meneteskan air matanya.
“Apa maksudnya akan meninggalkan diriku, pa? Dia udah janji sama aku akan menjaga diriku selamanya,” tanya Amara lagi dengan suara parau.
“Papa juga tidak tahu apa yang dimaksudnya, sayang,” ke-2 orang tua Amara langsung memeluk putrinya erat.
Tiba-tiba Amara melepaskan pelukan itu. “Papa bohong. Afan nggak akan ninggalin sahabatnya,” teriak Amara dan berlari keluar. Ke-2 orang tua Amara hanya melihat kepergian gadisnya. Mereka tahu sekarang Amara hanya ingin sendiri.
***
“Permisi, mbok. Benar ini rumah Afan?” tanya Amara dengan nada parau pada wanita tua yang sedang menyapu halaman rumah Afan.
“Iya, mbak. Ini benar rumah mas Afan.”
“Bisa dipanggilin, mbok?”
“Lo, dipanggil gimana? Mas Afan sudah meninggal selama sebualan yang lalu, mbak. Mbak salah alamat, kali?” tanya wanita itu bingung.
“Maksud saya Afan Firman Syah, betul tidak?” Amara semakin tidak mengerti.
“Benar, mbak. Itu nama pemilik rumah ini. Tapi dia sudah satu bulan yang lalu meninggal, mbak,” terangnya. Amara lagi-lagi meneteskan air matanya. “Apakah nama mbak ini mbak Amara?”
Amara menghapus air matanya.”Iya, mbok. Nama saya Amara. Memangnya kenapa, mbok?”
“Ini.. ini.., surat dari mas Afan untuk, si mbak,” wanita itu mengeluarkan surat Afan dari sakunya dan memberikannya pada Amara. Gadis itu langsung mengambil surat Afan yang sudah terlihat tua tak terawat
“Surat itu dibuatnya saat mas Afan baru pulih koma. Dia mengatakan pada si mbok untuk memberikan surat itu pada mabak Amara. Namun, sudah saya cari kemana-mana tidak ada rekan mas Afan yang bernama Amara. Baru ini saya mendengar nama Amara,” lanjut wanita itu. Amara mendengarkan sambil menangis lagi.
“Ya sudah, mbok. Makasih suratnya,” jawab Amara pelan dan pergi meninggalkan wanita itu.
Seperti biasah Amara pergi ketepian kolam untuk menenangkan dirinya. Sambil membaca perlahan surat Afan
Dear Amara,
Kalau aku boleh tebak pasti sekarang kamu ada ditepian kolam bukan dan sambil menangis? Dimana tempat aku meminta maaf padamu, iya bukan? Ditempat ini juga, aku akan meminta maaf dan berkata banyak terimakasih untukmu. Pertama aku minta maaf karna sudah meninggalkan dirimu secepat ini. Dan ke-2 aku sungguh berterimakasih padamu telah mewarnai dan menemani hari-hariku.
Amara, Mungkin kamu bingung atas semua yang terjadi padamu. Perlu kamu tahu hidup adalah panggung sandiwara. Terkadang kita tidak mengerti mengapa kita hidup dan diciptakan? Hidup memang lucu dan penuh dengan tebakan. Anggap saja aku hadir dalam hidupmu hanya untuk membuat putri snow white-ku tersenyum bahagia. Kamu juga bisa menganggap diriku malaikat yang turun dari surga dan pergi ke bumi untuk mengajarkan hal baru dalam kehiduoan untukmu.
Sekarang semua yang kuinginkan telah tercapai. Jadi, aku harus kembali ke surga. Sekali lagi maafkan diriku ini, ya. Aku harap kamu akan menjadi seorang gadis yang selalu ceria, bersemangat, pantang menyerah dalam bekerja, dan yang terpenting bahagiakan dan buatlah senang orang-orang didekatmu.
Jangan lupakan semua kisah kita, ya. Ini akan tertulis tinta emas dihatiku, kuharap kau juga. Aku akan selamanya terus menjadi sahabat setiamu seumur hidupmu…
                                                                              Malaikat dari Surga,

  
                                                                                                 Afan

            “Aku tak akan melupan semua itu. Malaikat dari Surga-ku,” serunya pelan
            Setelah membaca surat itu. Amara tidak menangis lagi dia malah tersenyum senang. Gadis ini sadar itulah kehidupan. Tiba-tiba dibelakangnya telah hadir orang-orang yang menyayanginya. Ke-2 orang tuanya dan Diana sang sahabat.
            Hari-hari berikutnya semuanya telah kembali. Ke-2 orang tua Amara tak lagi melupakan dirinya. Dan Amara bersama Diana akan terus senang menjalani waktu-waktu yang ada.

Label: edit post
0 Responses

Post a Comment