Gemerlap pancaran lampu
remang-remang menyinari sudut ruangan. Alunan suara musik DJ meramaikan suasana
malam. Puluhan remaja berdatangan ikut memenuhi ruangan. Menari penuh gairah
mengikuti alunan lagu yang dimainkan oleh DJ musik yang mahir. Pilihan musik DJ
menambah semangat para penari. Suara musik yang sangat keras menggema ruangan.
“Ayo,
teruskan.. Kita menari sampai pagi..,” ajak Amara sambil menari. Tubuhnya sudah
takterkandali lagi. Sudah berkali-kali dia meneguk bir.
“Kamu
nggak lagi mabukkan?” tanya Diana sambil melihat keadaan Amara yang menari
sambil terhuyung-huyung.
“Aku
nggak mabuk.. Aku serius.. Semua yang ada disini aku bayarin sampai pagi..,”
teriak Amara.
“Iya,
mana mungkin Amara bisa mabuk secepat itu. Dia mash minum sediki kok. Benerkan
sayang,” terang Marvel.
Tiba-tiba
tubuh Amara terjatih menabrak meja. Melihat keadaannya. Diana dan Marvel
langsung menghampiri Amara dan membopongnya keluar.
“Eh..,
Yan bawa dia pulang. Aku masih pingin disini,” seru Marvel sangat mabuk berat sambil
melemparkan tubuh Amara yang taksadarkan diri ke Diana. Wanita itu hanya
memenggang tubuh sahabatnya itu.
“Aku
juga lagi mabuk. Nggak mungkin aku bisa nyetir mobil sendiri, Vel,” jawab
Diana.
“Ah..,
masa bodoh. Aku males ngurusin cewek itu..,” kata Marvel sambil menunjuk
kekasihnya yang sedang tak sadarkan diri dan langsung masuk lagi ke diskotik.
“Tunggu,
Vel.. Amara- kan pacar kamu. Kamu harus bawa dia pulang..,” jerit Diana melihat
kepergian Marvel.
Sampai
di muka rumah pagar Amara. Diana bimbang akan apa yang harus ia lakukan. Tidak
mungkin bila ia harus mengetuk rumah Amara dan menyerahkan tubuh sahabatnya
yang jelas-jelas sedang mabuk berat kepada orang tuanya. Bisa-bisa ia akan
mendapat sambutan yang tidak menyenangkan. Maksudnya oemlan-omelan pedas dari
keluarga Amara. Tapi Diana juga tak mungkin meletakkan tubuh sahabatnya diteras
depan rumah Amara dan meninggalkannya begitu saja.
Tok..
Tok.. Tok..
Bunyi ketukan lembut Diana yang
sedikit bimbang akan pilihan hatinya. Namun tak ada jawaban dari dalam rumah
ataupun datangnya seseorang untuk membuka pintu. Tiba-tiba sesuatu yang diharap
Diana muncul juga walaupun sebenarnya tak ingin terjadi.
“Diana, apa yang terjadi dengan
Amara?” tanya bunda Amara sedikit emosi melihat anaknya pingsan takberdaya.
Diana hanya diam dan tertunduk gelisa sambil membopong tubuh Amara.
“Siapa, Ma? Amara?” muncul lelaki
yang sudah paruh baya yang ternyata ayah Amara.
“Lihat keadaan Amara, Pa.Dia
mabuk lagi,” terang bunda Amara sambil menarik tubuh Amara yang takberdaya dari
tangan Diana.
“Em.., Tante sama Om nggak usah
kuwatir Amara nggak pa-pa kok,” Diana mencoba menjelaskan.
“Tidak pa-pa gimana. Lihat apa
yang sudah kamu lakukan sama anak, Om,” ayah Amara emosi.
Tiba-tiba tubuh Amara bergerak
dan mulai sadar. “Ah.., udah diam semua. Diana nggak salah. Memangnya kalian
ber-2 mikirin keadaanku, apa?” seru Amara membela sahabatnya dan langsung
menyambar masuk ke rumahnya sambil melangkah gontai.
“Amara.. Amara..” teriak ayah
Amara melihat kepergian anak tunggalnya dan sedikit taksadarkan diri.
“Kalau gitu saya pamit pulang
dulu, Om sama Tante,” pamit Diana dan melihat ke-2 orang tua Amara tak
menggubris. Ia langsung pulang.
***
Angin bertiup semilir
menerbangkan helai-helai daun yang gugur. Meluruhkan kembang-kembang bungur ke
rerumputan. Amara hanya diam termenung menduduki rerumputan yang segar. Dia
memikirkan orang tuanya. Walaupun keluarga Amara sangatlah terpandang dan
begitu kaya. Gadis ini tak pernah senang dengan kehidupannya. Terkadang dia iri
melihat keharmonisan keluarga lainnya. Padahal diseberang sana banya orang yang
menginginkan kehidupan Amara yang sangat tercukupi. Namun menurutnya kekayaan
itu tidak menjamin kebahagiaan dalam sebuah keluarga. Berulang kali dia mencoba
untuk membangun keharmonisan itu tapi selalu gagal. Ke-2 orang tuanya tidak
pernah memikirkan dirinya hanya pekerjaan-pekerjaan dan pekerjaan. Sekarang
Amara hanya terselimuti kesendiriannya tanpa sebuah keluarga disampingnya.
Kenangan masa lalu itu memang
indah, memang cantik, tapi tidak untuk dikenang-kenang pada saat seperti ini.
Saat ini yang diperlukan justru semangat dari orang yang ia sayang, semangat
yang lahir dan hari-hari yang kian menyerupai rimba pelantaran yang harus
dihadapi dengan senjata dan jiwa petualang, jiwa pejuang. Dan bukan dengan
mengenang-ngenang masa-masa yang mudah, masa-masa ketika hidup kenikmatan.
Ingin rasanya gadis ini mengulang masa dininya
yang lalu. Dengan penuh keharmonisan dan kasih sayang.
Tiba-tiba lamunan itu sirna
ketika mendengar teriakan yang cukup menggema telinga. “Amara, kami mau pergi
berangkat dulu ya. Mbok Mina udah menyiapkan sarapan kesukaan kamu di meja
makan,” kata bunda Amara sambil mengecup ke-2 pipi gadisnya itu.
“Papa sama mama nggak sarapan
bareng aku dulu?” tawar Amara sedikit merengek.
“Kamu nggak usah manja, Amara.
Memangnya nggak bisa sarapan bareng mbok Mina saja. Kami ini sudah
terburu-buru,” terang ayah Amara. Mendengar perkataan itu Amara hanya tertunduk
murung.
“Pa, nggak usah kayak gitu,” seru
bunda amara pada suaminya. “Papa kamu sayang baget sama kamu, cuman sekarang
dia lagi sibuk aja. Jadi agak emosian gitu deh,” lanjutnya.
“Maaf perkataan papa barusan ya,
sayang. Benar kata mama kamu, kami ber-2 sayang sama kamu. Papa janji setelah
proyek perusahaan papa sama mama berhasil kita akan turuti apa yang kamu mau dan nanti kami akan makan malam bersama juga,” rayu
ayah Amara pada gadisnya.
“Janji ya, pa?s” jawab Amara
dengan nada memohon.
“Iya papa, janji. Asal kamu juga
doakan kami,” seru nya sambil membelai Amra lembut.
“Kami berangkat ya, jangan lupa
sarapan,” pesan bunda Amara sambil berjalan bersama suaminya menuju garasi. Dan
mereka segera meninggalkan gadisnya yang tengah berdiri di halaman rumah.
Melihat kepergian orang tuanya
Amara hanya memandang lesu, padahal ayahnya telah menjanjikan sesuatu padanya.
Gadis itu masuk dengan berjalan gontai menuju meja makan. Disana terlihat mbok
Mina yang tengah asik menyiapkan sarapan untuknya. Barbagai jenis makanan telah
dihidangkan dan sepertinya makanan-makanan itu tengah menunggu akhir hayatnya
tiba untuk disantap.
“Kenapa
harus masak begitu banyak?” tanya Amara sambil memandangi satu persatu makanan
yang ada dimeja.
“Saya juga tidak
tahu, mbak. Ini semua perintah tuan,” jawab mbok Mina menjelaskan.
Amara hanya mangut-mangut tanda mengerti.
“Kalau
makanannya sebanyak ini aku nggak bisa habiskan sendiri, mbok. Gimana kalau
mbok ikut makan juga sekalian temani aku makan disini?” tanya Amara seraya
memohon.
“Saya
mau-mau saja, mbak. Tapi makanan sebanyak ini juga tidak akan habis kalau hanya
dimakan ber-2,” seru mbok Mina.
“Benar juga,
ya. Kalau gitu panggil mang Udin juga deh, suruh ikut makan bareng,” kata Amara
memecahkan masalah.
“Kalau gitu
saya panggil dulu ya, mbak,” mbok Mina langsung pergi mencari mang Udin.
Tak lama
kemudian mang Udin datang dengan berlari menuju Amara.
“Eh, mang
Udin ikut makan juga yuks?” tawar Amara.
“Iya, mbak
saya mau sekali,” jawab mang Udin supir Amara.
Mang Udin
dan mbok Mina langsung duduk di samping Amara bersiap nyantap makanan. Melihat
anak majikannya memulai makan mang Udin dan mbok Mina juga memulainya.
Krriiiing….
Dering bunyi telepon.
“Angkat, mbok,”
perintah Amara. Mbok Mina langsung menyambar sumber bunyi yang telah mengganggu
sarapan paginya.
“Ini dari
mbak Diana. Katanya ada perlu sama, mbak Amara,” kata mbok Mina sopan sambil
menyerahkan telepon rumah tanpa kabal pada Amara.
“Makasi ya,
mbok,” Amara lembut dan meninggalkan sarapannya.
“Ada apa,
Din? Pagi-pagi bolong udah nelpon?” tanya Amara pada suara dalam telpon itu.
“Aku dapat
pengumuman kalau hari kuliah kita ditukar sekarang tepatnya jam sembilan pagi,”
terang Diana.
“Kok mendadak
gitu she?” Tanya Amara tak setuju.
“Udah nggak usah
banyak ngomong. Pokoknya nanti kamu harus datang on time, okey. Aku
tunggu di perputakaan kurang dari jam Sembilan,” potong Diana dan mematikan
telepon. Amara hanya menghirup nafas panjang mendengar perkataan terakhir
sahabatnya itu.
***
Mahasiswa-mahasiswi
mulai berdatangan. Jam tangan Amara telah menjukkan pukul setengah sembilan
tepat. Pancaran sinar matahari menyelinap masuk melalui kisi-kisi di tembok
perpustakaan. Udara tak lagi sesejuk tadi. Berkas-berkas sengatan sinar
matahari menghangatkan kulit. Sehangat sapa para mahasiswa yang telah akrab
dengan gedung tua ini, dengan Amara, dengan rak-rak buku koleksi buku-buku
setebal bantal yang turut membantu mereka menyalesaikan kuliah.
Gadis ini memang
hampir tidak pernah absen mengunjungi gedung perputakaan. Tempat tua ini adalah
tempat favoritnya. Namun, bukanya untuk membaca buku dan menambah ilmu melainkan
untuk menemui sahabat karibnya. Amara bukan tipe cewek yang suka membaca
apalagi buku bacaan dalam perpustakaan. Dia berani
masuk ke tempat itu cuman karena Diana gemar sekali pergi ke gedung tua itu.
Amara
melangkah ringan mencari sosok sahabatnya itu. Dia terus celingak-celinguk ke
kiri dan ke kanan menelusuri silempitan rak-rak buku. Akhirnya gadis itu
bertemu juga dengan sosok yang ia cari. Tanpa berpikir panjang Amara langsung
menghampirinya.
“Hey.., ke
luar yuks aku udah nggak betah pingin muntah nih,” desah Amara sambil memegang
pundak Diana. Melihat ekspresi sahabatnya Dian langsung berdiri dan segera
menuruti permintaan Amara.
“Kamu bohong
ya, sama aku?” tanya Amara emosi.
“Bohong apa
sech?” Diana ganti bertanya.
“Kamu bilang
sekarang ada jam kuliah tapi aku lihat di jadwal tetep kok, nggak ada yang
berubah sama sekali,” terang Amara.
“Kita duduk
di sana dulu aja deh, nanti aku jelasin,” kata Diana seraya menjelaskan sambil
mengarahkan telunjuknya ke tempat yang dimaksudnya.
Mereka duduk
di bawah rindangnya pohon bungur. Berbaur bersama
kelompok-kelompok mahasiswa-mahasiswi yang juga tengah berangin-angin di taman.
“Aku emang
bohongin kamu kok,”seru Diana santai. “Aku mau ceritaain sesuatu sama kamu.
Tolong kamu jangan marah dulu, tahu sahabat kamu in udah bohongin kamu,” jelas
Diana lembut.
“Emang mau
cerita apa?”
“Kayaknya
kamu harus cepet-cepet mutusin cowok kamu itu deh.”
“Maksud kamu
Marvel? Emang kenapa sama dia?”
“Iya,
Marvel. Dia itu cuman manfaatin kekayaan kamu aja, Mar.”
“Kamu
ngomong apa sech?” Amara mulai emosi.
“Kamu tenang
dulu, aku cerita ini sama kamu biar kamu ngak salah nilai Marvel dari luarnya
aja. Dia itu buaya darat. Udah banyak cewek yang dia manfaatin kekayaannya.
Sekarang aja dia udah punya ceweklain selain kamu, Mar,” terang Diana.
“Jadi kamu
suruh aku ke sini cuman mau ngomong hal yang nggak penting ini? Nggak ada
gunanya tahu. Kamu cuman buang-buang waktuku aja. Kamu juga nggak punya
buktikan atas semua perkataanmu?” seru Amara ngetes. Dia langsung menyambar
pergi meninggalkan Diana tanpa mendengar penjelasan sahabatnya.
“Amara..
Amara.. Amara tunggu, Mar.. Terserah kamu, kamu mau percaya apa enggak,” teriak
Diana.
Amara tak
habis pikir mendengar perkatan yang barusan dilontarkan dari mulut Diana.
Sekarang isi kepalanya sangat berantakan. Dia melangkah gontai menuju parkiran.
Dimana tempat ia meletakkan si merah, mobil sedan pribadinya. Gadis ini
langsung menaiki mobilnya dan entah mau pergi kemana untuk menenangkan dirinya.
Saat ini Amara memang butuh tempat untuk sendiri.
***
Senja ini
kelihatan lebih gelap dari biasanya, padalah baru pukul setengah enam sore.
Langit di sebelah barat nampak agak mendung. Amara bukanya melangkah cepat.
Namun ia malangkah dengan tak henti-hentinya melamunkan dan memikirkan perkatan
Diana. Perkataan itu terus menyelimuti pikirannya.
Pekarangan
rumah yang luas dan lengang menyambut kepulangannya seja itu. Amarapun memasuki
rumahnya yang seperti istana kosong tanpa penghuni. Disana terlihat ada mbok
Mina yang tengah asyik menyiapkan makan malam di ruang tengah.
“Sore, mbak,”
sapa hangat mbok Mina dengan senyum lebarnya. Amara hanya membalas dengan
senyuman lelahnya.
“Oh iya, mbok.
Papa sama mama nggak nelpon beri tahu pulang jam berapa?” tanya Amara sedikit
berharap.
“Tadi sudah
nelpon, mbak. Katanya mungkin tuan sama nyonya pulang pagi. Kemungkinan besar
katanya nggak jadi makan malam bersama,” terang mbok Mina lesu melihat raur
muka anak gadis majikannya yang ditekuk. Tanpa menjawab Amara langsung menaiki
tangga menuju kamarnya, dimana dia bisa bersendiri.
“Mbak nggak
makan dulu?” tanya mbok Mina. Sebelum meninggalkan pembantunya Amara hanya
menoleh dan menggelengkan kepala. Mbok Mina mengerti benar bagaimana perasaan
Amara setelah melihat raut muka Amara.
Didalam
kamar Amara hanya duduk lesu memandangi album foto masa kecilnya. Dimana saat
itu dia selau mendapat kasih sayang penuh. Tetesan demi tetesan air matanya
mengalir keluar. Gadis ini tidak tahu apa yang bisa dia lakukan setelah
mendengar perkataan Diana dan sekarang ke-2 orang tuanya membatalkan janjinya
untuk makan malam bersamanya.
Malam terus
merayap, dan pagi sesaat lagi datang menjelang, semantara gadis itu tetap
tersungkur di kamar tidurnya. Menangis berteman bantal. Kisah indah makan
malamnya kemarin yang dikhayalkannya tak pernah menjadi kenyataan.
Angan-angannya tetap menjadi segumpal awan semu di atas langit yang jauh.
“Kalau aku
tidak menuruti perkataan kamu pasti semuanya nggak jadi kayak gini,” teriak
ayah Amara.
“Kamu jangan
terus-terusan nyalahin aku. Kamu juga menyepakati janji itu bukan?” balas bunda
amara tak kalah kerasnya.
Pertengkaran itu
membangunkan anak gadisnya yang tengah tidur sejenak. Mendengar itu Amara
langsung turun kebawah dan menghampiri ke-2 orang tuanya.
“Pagi-pagi
kalian udah berantem, ada apa sech?” tanya Amara emosi.
“Proyek papa
hancur. Semuanya gagal total,” terangnya keras. “dan tak lama lagi rumah kita dan seluruh isi barangnya akan disita pihak
bank. Kami ber-2 bangkrut,” lanjutnya sambil menurutkan nada bicara.
Amara hanya
diam mendengar penjelasan ayahnya. Ke-2 orang tuanya menangis dan sangat
terpukul dengan apa yang telah menimpa mereka. Tiba-tiba datang sekelompok
pihak bank memerintah ke-2 orang tua amara dan Amara untuk segera mengangkan
kaki dari sana. Mereka tak bisa berkata apa-apa, merekapun langsung membereskan
barang-barang mereka yang boleh dibawa dan segera meninggal kan rumah yang
seperti istana itu.
Entah apa
yang telah menimpa keluarga Amara. Berturut-turut gadis itu mendapat musibah
dan sekarang menimpa keluarganya. Mereka lengsung mencari rumah yang dapat
disewanya. Akhirnya tak jauh dari kampus Amra mereka menemukan rumah yang dapat
mereka sewa. Walu rumah itu tak begitu besar bagi ke-2 orang tua Amara namun
mereka sangat senang telah mendapatkannya. Pemilik rumah itu juga cukup baik.
Beliau mengijinkan keluarga Amara tinggal tanpa membayar uang muka.
“Kami
sekeluarga sangat berterima kasih atas kebaikan ibu ini,” seru bunda Amara
senang.
“Anggap saja
saya telah membalas budi kepada gadis ibu dan bapak yang telah menyalamatkan
semua isi tas saya dari perampok,” bu Nensi pemilik rumah menjelaskan.
“Iya, ma,
pa. Kemarin aku tabrakkan sama perempok yang mbawa tasnya bu Nensi. Jadi
kebetulan aja aku bisa nyelameti tas bu Nensi,” ujar Amara. Ke-2 orang tuanya
hanya menundukkan kepala tanda mengerti.
“Ya sudah,
bu, pak. Saya tinggal dulu silahkan menata barang-barangnnya,” bu Nensi
mempersilahkan dan pergi meninggalkan keluarga Amara.
“Sudah, ayo
masuk. Banya pekerjaan yang harus kita selesaikan bersama,” potong ayah Amara
masuk kedalam rumah dan membawa barang-barang dari rumah yang telah disita oleh
bank.
***
“Jadi
sekarang kamu nyawa rumah?” tanya Diana nggak percaya.
“Iya.
Rumahku yang kayak istana kosong dan seluruh isinya udah disita bank,” jelas
Amara enteng.
“Gila,” seru
Diana semakin tidak percaya. “Terus kamu betah tinggal disitu? Setahu aku rumah
sewaan itukan kecil, apalagi kamu tinggal ber-3?” lanjutnya.
“Kalau
masalah itu nggak usah dipikirin repo-repot. Ke-2 orang tuaku juga nggak begitu
mikirin. Sekarang yang paling penting hidupku nggak penuh
kesendirian. Mereka ber-2 udah sadar. Dan hidupku penuh dengan kasih sayang dan
keharmonisan. Aku berjanji tidak akan merubah semua sikapku yang selama ini
membuat mereka sakit. Kekayaan memang tidak menjamin kabahagiaan. Mulai
sekarang aku akan berjuang untuk meraka, ” terang Amara gembira.
“Wah.., sekarang
snow white udah punya 7 kurcaci dong. Aku ikut bahagia kalau dengar kamu juga
senang,” Diana senang sambil memeluk Amara.
“Eh, enak
aja kamu ngatain orang tuaku jadi kurcaci,” bentak Amara becanda.
“Oh, iya. Sorry
sorry, nggak sengaja.”
“Nggak pa-pa
kok. Aku juga minta maaf soal yang kemarin. Aku udah bentak-bentak kamu,” seru
Amara manja sambil memeluk sahabatnya.
Tiba-tiba
keharmonisan itu menghilang akibat datangnya kehadirang seseorang.
“Oh,
ternyata kamu ada disini,” kata Marvel emosi.
“Marvel?
Kamu kenapa?” tanya Amara bingung.
“Sekarang
kita putus titik,” jawab Marvel membalik badan meninggalkan Amara.
“Tunggu,
Vel,” seru Amara seraya berlari dan menarik tubuh Marvel. “Maksud kamu apa?”
tanyanya.
“Iya, kita
putus. Kamu udah jatuh miskinkan?” tanya Marvel ngetes.
“Kamu tahu
dari mana?”
“Semua udah
tahu dan sekarang aku minta kita putus.”
“Memang
kenapa kalau aku jatuh miskin? Apa itu berpengaruh dengah hubungan kita?”
“Itu sangat berpengaruh.
Memangnya selama ini kamu belum tahu kalau aku nggak serius sama kamu? Kasihan
banget, ya,” seru Marvel merendahkan Amara.
“Berarti
selama ini kamu cuman manfaati kekayaanku aja?” tanya Amara sambil meneteskan
air matanya.
“Ya iyalah,”
jawabnya enteng. Tiba-tiba seseorang gadis datang dan membawa Marvel pergi
meninggalkan Amara. Amara hanya diam termenung menatap kepergian Marvel.
Diana
berlari menghampiri sahabatnya setelah melihat kejadian yang telah dialami
Amara.
“Kamu nggak usah
sedih, Mar. Ada aku kok,” kata Diana menenangkan sambil memeluk erat
sahabatnya.
Senja begitu
cerah. Angin semilir menemani. Namun tak secerah perasaan Amara. Bertubi-tubi gadis ini selalu mendapat musibah. Hancur sudah hatinya. Sosok yang ia cinta telah meninggalkannya. Yang tersisa
hanya seberkas kenangan. Tetesan demi tetesan air matanya terus terjatuh
membasahi pipi gadis itu. Pupus sudah harapannya. Dia meninggal dirinya dengan alasan
yang tak enak.
***
“Amara, kamu
udah nggak pa-pa?” tanya Diana heran melihat sahabatnya.
“Emangnya
harus ya, kalau seorang gadis terus-terusan nangis dijendela meratapi
kehidupannya?” Amara ganti nanya dengan nada ngetes.
“Nggak gitu,
Mar. Aku malah senang ngelihat kamu bisa masuk kuliah lagi kok. Tapi... em..
masalah yang waktu itu..,” bicara Diana sedikit tersendat takut sahabatnya
teringat kembali.
“Kenapa? Aku
udah nggak mikirin lagi kok. Masih banyak cowok diseberang sana yang masih
menunggu si snow white, kayak aku,” jawab Amara santai.
“Amara..,”
Diana memeluk sahabatnya.
Pagi itu
udara masih begitu segar. Pancaran sinar matahari belum begitu terpancar.
Gundukan tanah terlihat basah terkena tetesan embun malam. Hari itu memang beda
dari biasanya. Semangat Amara telah muncul berapi-api. Gadis itu tak lagi
diselimuti rasa kesedihan.
“Jadi, kamu
datang pagi-pagi bolong kayak gini cuman mau ngelamar kerjaan?” tanya Diana.
Amara hanya menggut-manggut.
“Aku kasihan
melihat orang tuaku berdagang rujak. Makanya aku mau minta tolong sama kamu
untuk mbantu aku cari kerja. Aku juga nggak bisa terus-terusan nangis dijendela
karena masalah waktu itu. Semua itu nggak nyelesaiin masalah malah membuat ke-2
orang tuaku sedih. Jadi, plis tolong aku ya,” terang Amara murung.
“Gitu ya.
Aku juga nggak tahu tempat lowongan kerjaan yang pantas buat kamu, Mar.”
“Terserah
pekerjaan apa aja deh yang penting halal.”
“Ceiyleh.., gaya mu, Mar-Mar.”
“Aku serius,
Din. Aku butuh kerjaan banget. Kasihan ke-2 orang tuaku,” harap Amara makin
murung.
“Kalau gitu
kamu datang aja ke perusahaan teman orang tuaku, Mar. Aku dengar mereka mbutuhi
sekertaris baru.”
“Okey aku
mau. Dimana?” tanya Amara semangat.
“Ntar aku
ambil dulu alamat perusahaannya,” kata Diana menyambar masuk kedalam rumahnya.
“Ini alamatnya,” Diana menyodorkan kertas kecil kearah Amara.
“Makasih
banyak ya, Din,” jawab amara senang.
“Ya udah
sana buruan pergi nanti keduluan,” seru Diana. Amarapun langsung pergi
meninggalkan Diana.
***
“Jadi,
disini kantornya.” seru Amara sambil celingak-celinguk.
Saat amara
berjalan perlahan mendekati kantor itu. Tiba-tiba dia
mendengar teriakan seorang wanita.
“Tolong-tolong. Tas saya dijambret. Tolong..,” teriak wanita itu.
Tak sengaja
penjambret tas itu menabrak Amara. Dia langsung memukuli jambret itu sekuat
tenangga. Namun penjambret itu berhasil meloloskan diri. Untungnya tas itu
berhasil didapatkan Amara.
“Siapa
pencurinya?” kata seorang laki-laki mendekat bersama wanita pemilik tas itu.
“Itu tas
saya, pak,” seru wanita itu menunjuk tas yang dibawa Amara.
“Jadi kamu
pencurinya?” lelaki tinggi itu memarahi Amara.
“Bukan saya
pencurinya,” Amara membela.
“Sudah jangan
banyak bicara. Serahkan tas itu,” perintah lelaki itu. Amara langsung
memberikan tas itu. Lelaki itu dan wanita pemilik taspun segera pergi
meninggalkan Amara. Amara hanya diam melihat kepergian mereka. Dan segera
memikirkan tujuannya kesana.
Gadis itupun
segera masuk dan bertanya pada resepsionis disana. Pegawai itupun langsung mengantarkan Amara keruang kepala kentor.
“Mari masuk, mbak. Boss saya sudah ada
didalam,” seorang resepsionis mempersilahkan dan membukakan pintu.
“Makasih ya,
mbak,” jawab Amara sopan.
“Permisi,
pak. Saya mau mendaftarkar diri menjadi sekertaris baru disini,” sapa Amara
lembut. Lelaki itu langsung membalikkan badan dan melihat Amara.
“Bukannya
kamu pencuri tas milik pegawai saya?” tanya lelaki itu marah setelah meliha
muka Amara.
“Maaf ya, Ppak.
Saya tegaskan sekali lagi, saya bukan pencuri tas pegawai anda. Dan kalau saya
tahu kepala kantor ini anda, saya tidak akan mau melamar kerja disini,” jawab
Amara tak kalah keras.
“Lagian
siapa juga yang mau menerima anda disini. Saya tidak suka mempunyai pegawai,
pencuri, pembohong, dan sok seperti anda,” lelaki itu semakin emosi. Tanpa
menjawa Amara langsung berlari dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Langit
begitu gelap. Terselimuti awan-awan gelam Seakan tahu perasaan Amara. Gadis itu
hanya duduk termenung ditepian kolam. Memikirkan nasibnya dan keluarganya yang
kian menyiksa memang sangat menyakitkan. Puluhan kerikil ia lempar masuk ke
dasar air. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Begitu sakit hatinya
mendengar lontaran mulut lelaki tadi yang sangat menusuk. Tetesan demi tetesan
lagi air matanya jatuh dan membasahi sekujur mukanya.
“Gadis
cantik sepertimu tidak pantas menangis ditepian kolam seperti itu. Diam termenung sambil melempar bebatuan ke dasar air. Nggak ada gunanya
tahu. Itu semua tidak menyelesaikan masalah. Air matamu sangat mahal harganya
bila cuman digunakan untuk menangis,” seru lelaki yang tiba-tiba hadir
disamping Amara. Amara hanya diam dan tak menggubris perkataan itu.
“Sudah hapus air
matamu dengan sapu tanganku,” lanjutnya sambil menyudorkan saputangan miliknya
ke Amara.
Amara langsung
membalikkan badan dan melihat sosok yang ada didekatnya. “Kamu? Ngapai kamu kesini?” teriak Amara marah.
“Aku kesini
mau minta maaf sama kamu. Sorry udah mbuat gadis
cantik sepertimu menangis ditepian kolam. Aku tahu aku salah. Sudah jangan menangis dan hapus air matamu itu,” kata
lelaki itu kalem.
“Aku nggak
nangis kok,” jawab Amara sambil menghapus air matanya.
“Ke
datanganku kesini mau menerimamu mejadi sekertarisku. Aku sudah mendapatkan
penjelasan dari pegawaiku, kalau bukan kamu pencuri tas itu. Melainkan kamulah
yang menyelamatkannya. Seandainya saja kamu tidak ada pasti semua isi dokumen
penting perusahaanku yang ada di tas itu akan lenyap. Bila kamu bersedia
menjadi sekertarisku. Besok datanglah pagi-pagi ke ruangan kerjaku,” seru
lelaki itu dengan bijaksana. Dan ia langsung pergi meninggalkan Amara.
“Tunggu,
jangan pergi dulu,” potong Amara pelan membuat lelaki itu menghentikan
langkahnya.
“Apa?”
“Aku juga
mau minta maaf sama kamu atas semua sikapku.”
“Kamu nggak
perlu minta maaf aku yang salah udah membuatmu menangis. Dan yang terpenting
aku sudah berkata kasar dan tidak benar padamu,” jawab lelaki itu lembut.
Amarapun tersenyum mendengarnya.
“Nggak usah
senyam-senyum, jelek tahu. Oh, iya. Jadi apa kamu mau menjadi sekertarisku?”
“Em.. gimana
ya..,” seru Amara berpikir panjang.
“Nggak usah
pake basa-basi deh. Besok aku tunggu kamu di ruanganku,” potong lelaki itu.
Amara langsung diam dan cemberut, menatap tanah. “Dari tadi aku belum tahu nama
kamu ya. Nama kamu siapa? Aku Afan,” lanjutnya sambil menyodorkan tangan
kanannya ke amara.
“Namaku
Amara,” Amara menggenggam sodoran itu. Afan diam dan
termenung mendengar nama itu disebut.
“Amara? Nama
kamu Amara?” tanya Afan beloon.
“Iya namaku
Amara. A..M..A..R..A..,” Amara mengeja.
“Nama kamu
Amara. Benar nama kamu Amara?”
“Emang
kenapa kalau namaku Amara? Ada masalah?”
“Eng..nggak
ada,” potong Afan tegas. “Em.., nama kamu sama kayak calon isteriku.”
“Calon
isteri?” Amara ganti beloon.
“Iya. Tapi
dia udah pergi ninggalin aku selamanya.”
“Kalau boleh
tahu kenapa?” tanya Amara pingin tahu.
“3 hari
sebelum menikah, aku sama dia kecelakaan tertabrak trek. Tapi sayang dia tidak terselamatkan,” terang Afan gemetar.
“Aduh.., maaf
ya. Aku nggak tahu,” Amara bersalah.
“Nggak pa-pa.
Kamu nggak salah. Hidup memang seperti panggung sandiwara. Jadi, kita harus selalu menghadap ke depan melihat nasa
depan kita. Aku juga nggak boleh tetap terpuruk dalam kesedihanku. Iya-kan?”
seru Afan memulihkan kebali nada suaranya.
“Iya, itu
memang benar,” potongng Amara bersemangat.
“Hebat
banget dia bisa berdiri sendiri dengan keterpurukannya yang begitu dalam.
Dibalik sosok lelaki keras ini memang tersimpan hati yang sangat muliah. Aku
sudah salah menganggap dia,” batin Amara sambil memandangi Afan penuh seksama.
“Heh..
nggapai kamu ngeliati aku?” getak Afan membuat Amara tersentak kaget.
“Nggak
pa-pa.”
“Kelihatannya
mau turun hujan nih. Aku antar pulang yuk?” tawar Afan. Amara diam dan memikirkan jawaban untuknya.
“Nggak usah
kelamaan mikir deh. Ayo aku antar pulang. Kamu udah jadi bawahan aku. Jadi, aku
juga harus memikirkan dirimu. Nanti keburu hujan. Aduh, ayo,” tanpa menunggu
jawaban Amara, Afan langsung menarik gadis itu dan membawanya masuk kedalam
mobilnya.
Tak lama
kemudian samailah mereka di rumah kontrakan Amara.
“Itu
rumahku,” tunjuk Amara keluar. Gadis itu langsung keluar
dari mobil Afan.
“Makasih,
ya.”
“Iya. Udah
sana masuk. Besok pagi jangan lupa datang ke kantor. Salam buat keluargamu,
ya,” jawab Afan lembut.
“Okey,”
jawab Amara mengangkat ibu jarinya. Dan masuk ke rumah, meninggalkan Afan.
Lelaki itupun langsung pergi.
“Pa, ma.
Coba tebak ada kabar gembira apa ayo?” tanya Amara bersemangat.
“Apa ya,
mama nggak tahu ni. Papa tahu nggak?” bunda Amara ganti nanya.
“Papa juga
nggak tahu sayang. Memangnya apa sampai membuat kamu ceria sekali?”
“Aku di
terima kerja, pa. Dan paling hebatnya aku diterima jadi sekertaris ketua
kantor. Hebatkan,” seru Amara sambil menepukkan tangan.
“Wah..,
hebat sekali,” jawab ayah Amara sambil memeluk gadisnya.
“Terus tadi
yang antar kamu pulang siapa?”
“Boss baru aku.
Dia baik banget lo, ma.”
“Memangnya
nama boss kamu itu sapa?”
“Afan,”
singkat Amara.
“Dari
namanya kayaknya dia tanpannya?” tanya bunda Amara menggoda.
“Lumayan
sech, ma. Tapi bukan tipeku,” Amara gengsi.
“Tapi
sayang, jaman sekarang banyak orang yang kepencut cinta lokasi sama bossnya
sendiri. Jadi, kamu bisa jugakan?” goda bunda Amara
“Ih..,
mama.” Amara mengelitik perut bundanya.
“Sudah-sudah.
Jadi mulai sekarang Amara harus tunjukkan keseriusan kerja Amara pada boss
Amara itu. Okey,” seru ayah Amara bijak. Amarapun menganggukkan kepalanya dan
tersenyum tulus.
Kekayaan
memang tak menjamin kebahagiaan. Buktinya kesederhanaan keluarga Amaralah yang
membuat keharmonisan itu tumbuh. Gadis itu tak lagi menangisi kesendiriannya.
Karena telah hadir sebuah keluarga yang selalu mewarnai hidupnya.
***
“Silahkan
masuk, mbak. Pak Afan sudah menunggu anda didalam,” pegawai itu mempersilahkan
dan membukakan pintu. Gadis itu langsung masuk ke dalm ruangan Afan.
“Akhirnya
kamu datang juga. Lumayan pagi untuk seorang pegawai baru disini, yah bagus.
Ayo duduk dan dengarkan aku baik-baik,”
perintah Afan. “Tugasmu disini adalh mencatat dan merekaulang semua
kegiatan-kegiatan kantor. Yang terpenting kamu juga menjadi asisten
kepercayaanku. Kau dengar dan bisa dimengerti?”
“Iya, aku
mengerti. Kalau boleh tahu ruangan kerjaku dimana?”
“Ayo ikuti
aku.” Amara langsung mengikuti perintaha Afan. “Disini ruangan kerjamu,” tunjuk
Afan disuatu ruangan. Gadis tersenyum dan mengawasi disudut-sudut ruangan.
“Aku tinggal
dulu. Selesaikan semua pekerjaanmu,” Afan meninggalkan ruangan
itu.
Mendapat ruangan pribadi dari kantor dan tempat itu
ber-AC. Wah.., enak. Itulah yang dirasakan amara
saat ini. Gadis yang dulunya berkepribadiaan manja dan suka minta-minta tanpa
berusaha. Sekarang telah menjadi seorang yang benar-benar bijak. Demi
kebahagiaan kelurganya, dia rela berkerja keras. Walau permulaannya meamang
sangatlah sulit. Namun, sekarang semuanya telah tercapai dengan mudah. Hanya
inilah yang bisa dia wujudkan kepada ke-2 orang tuanya. Selalu bekerja keras
dan takpantang putus asa.
“Kamu udah selesai?” tanya afan yang tiba-tiba masuk ke
ruangan Amara.
“Ini udah hamper selesai.”
“Udah hamper jam makan siang nih. Temannin aku yuk?”
“Belum bisa, pak. Pekerjaan saya
belum selesai. Ini saja belum saya koreksi benar atau salah.”
“Udah
tinggalin aja dulu. Masalah itu gampang nanti bisa aku bantu. Kasihan perutmu
belum terisi dari tadi,” Afan perhatian.
“Nggak usah,
pak. Saya bisa pergi cari makan sendiri.”
“Kamu bisa
makan sendiri tanpa orang disampingmu. Tapi aku nggak bisa sendirian, Mar.
Lagian apa-apaan she kamu panggil aku dengan sebutan, pak. Aku ini masih muda.
Nggak pantas dipanggil, Pak,” seru Afan sedikit marah.
“Maaf, pak.
Bukan maksud saya ngatain bapak tua atau apa,” jawab Amara bersalah.
“Aku ngerti
kamu, pasti kamu ikut-ikut pegawai disinikan?”
“Iya. Tapi
bukankah itu benar kalau seorang bawahan memanggil atasannya dengan sebutan,
pak?”
“Itu memang
benar. Tapi aku minta kamu panggil aku cukup dengan Afan aja, nggak usah
pak-pak-an,” seru Afan gemas.
“Iya, pak.
Eh..,” Amara menutup mulutnya. “Maksud saya, iya, Fan,” seru Amara malu.
“Siip,
bagus. Kalu gitu ayo temani aku makan siang. Jangan banyak alasan,” potong Afan
menarik tangan Amara.
***
“Makasih ya,
mbak,” kata Amara lembut sambil tersenyum pada pegawai restoran yang sedang
menyodorkan makanan.
“Kamu suka
sayuran?” tanya Afan heran.
“Iya. Dari
kecil aku udah dibiasahin makan sayuran hijau.”
“Berarti aku
bisa sebut kamu cewek vegetarian dong?” Amara hanya tersenyum mendengarnya.
“Emangnya kenyang kalau cumin makan gituan aja? Sekarangkan udah siang?”
“Kenyang
kok. Perutkukan kecil nggak kayak..,” Amara berhenti.
“Kayak aku
gitu maksudnya,” potong Afan sambil bernafas panjang dan membuangnya perlahan.
“Aku nggak
bermaksud nyindir kamu kok,” jawab Amara lugu dan tersenyum lucu.
“Ra, salah
nggak kalau aku coba membuka hatiku untuk seorang cewek dan mulai melupakan
Amara, calon isteriku?” tanya Afan dengan tatapan serius sampai membuat Amara
berhenti mengunyah dan mulai serius menatap Afan.
“Kalau
menurutku wajar-wajar aja kok. Itu malah kemajuan bagus. Soalnya jelek kalau
kita terus menutup hati kita untuk orang lain,” Amara menjelaskan dengan
santai.
“Wajar ya,”
Afan manggut-manggut. “Kalau cewek itu kamu. Kamu mau nggak?” lanjutnya membuat
Amara terkejut mendengarnya.
“Maksud
kamu?” Amara bingung.
“Woiy.., aku
cumin becanda,” teriak Afan sambil tertawa keras. Amara langsung cemberut.
“Mana mungkin kalu aku bisa suka sama cewek kaya kamu, Ra. Berharap banget sech
kamu,” lanjutnya sambil memukul dahi Amara pelan. Amara makin cemberut melihat
ulah Afan yang semakin menyebalkan.
“Eh, sorry-sorry.
Aku cuman becanda aja kok. Jangan marah dong putrid
snow white-ku yang cantik,” goda Afan. Amara langsung tersendak kaget mendengar
sebutan snow white.
“Apa? Kamu
panggil aka snow white?”
“Iya, emang
kenapa?” Afan bermuka beloon.
“Kamu kok tahu
sech kalau itu sebutan namaku? Itu-kan nama kecilku?” Amara heran.
“Nama kecil
kamu? Itu juga sebutan nama kecil dari calon isteriku, si Amara. Kok bisa sama
sech?” Afan kaget.
“Kamu
bohongkan? Mana mungkin bisa sam terus-terusan kayak calon isteri kamu itu,”
Amara sedikit emosi.
“Sumpah, aku
nggak bohong,” jawab Afan sambil suer.
“Ah, udah nggak
usah dibahas,” potong Amara.
“Aku juga nggak
bakal bahas itu lagi kok. Tapi maafin aku ya.
Udah buat kamu marah. Ya udah terusin makanya,” seru Afan bersalah.
Tak lama
kemudian makanan yang ada dimeja sudah habis itu menandakan kalau makan siang
mereka telah usai.
“Ra, kamu
masih marah sama perkataan aku tadi?” tanya Afan pelan sambil berjalan keluar
bersama Amara.
“Nggak kok.
Aku nggak marah. Mungkin aja semua persamaan itu cuman kebetulan,” jawab Amara
lembut dan tersenyum lembut pada Afan.
“Aku jadi
seneng kamu bisa maafin aku,” Afan membalas senyuman itu. “Aku udah lama nggak
makan es krim nih. Mau anterin aku bentar nggak?” tunjuknya pada penjual es
krim.
“Bukannya
kita harus kembali ke kantor?”
“Kamu itu
kok mikirin kerjaan terus aja sech? Nggak capek apa? Lagian atasannyakan aku.
Jadi kamu nggak usah bingung-bingung deh. Tenang aja. Udah ayo,” Afan langsung
menarik tangan Amara dan menuju penjual es krim keliling itu.
“Enakkan?”
tanya afan. Amara hanya tersenyum sambil menjilati es krimnya.
Afan melihat
sisa krim cokelat di bibir kanan Amara. Dengan sigap,
lelaki itu langsung membersihkan sisa kris itu dengan tangannya. Sontak ke-2
insan ini saling bertukar pandangan. Selama beberepa detik mereka terus diam
mematung seperti itu.
“Eh, sorry,”
Afan sadar dan melepaskan tangannya. Amara diam
dan tersipu malu.
“Nggak pa-pa
kok,” jawab Amara sambil membersihkan sisa krim es-nya yang masih tersisa.
“Ya udah deh aku
antar pulang yuk?” tawar Afan.
Didalam mobil
mereka diam membisu. Entah apa yang terjadi pada
ke-2 insani ini. Tak terasa sampailah didepan rumah Amara. Amara langsung turun
dan masuk ke rumah. Tiba-tiba Afan melihat ayah Amara keluar dari samping
rumahnya. Lelaki itupun langsung turun dan menghampiri ayah Amara.
“Bapak?
Bukankah bapak, pak Andi?” tanya Afan.
“Iya saya
Andi. Kalau boleh tahu anda siapa?” ayah Amara ganti bertanya.
“Saya Afan,
pak. Saya atasan dari anak bapak,” jawab Afan sambil menyodorkan tangannya.
Ke-2 pria
ini terjebak dalam pembicaraan serius. Entah telah berapa lama mereka ber-2
terus bercakap-cakap tentang perusahaan ayah Amara yng tiba-tiba bangkrut. Saat
itu Afan menceritakan semua permasalahan mengapa perusahaan itu bangkru seketika.
Ternyata ada kesalah pahaman antara ayah Amara dengan lawan kerjanya. Lawan
kerja ayah Amara telah menipu dirinya. Itulah penyebab kebangkrutan
perusahaannya.
“Jadi begitu
ceritanya,” kata ayah Amara mengerti.
“Iya, pak.
Selama ini saya mencari keberadaan bapak untuk mengatakan yang sebenarnya.
Seandainya saya tahu kalau anda ayah dari Amara, pasti saya akan mengatakan ini
secepatnya,” Afan berkata bijak.
“Terimakasih
atas semua penjelasan nak Afan. Kalau saja nak Afan tidak mengatakan semua ini
pasti nasib keluarga saya akan terus dikejar utang seperti ini,” ucap ayah
Amara senang.
“Sama-sama, pak. Oh, iya. Mungkin rekaman ini
bisa membantu bapak ketika bapak menjelaskan nanti didepan semua rekan kerja
bapak,” Afan menyerahkan perekan suara pada ayah Amara.
“Kalau
begitu saya sangat terimakasih atas semua ini nak Afan. Ayo mari masuk ke
dalam,” ajak ayah Amara.
“Tidak usah,
pak. Saya sangat terburu-buru. Saya langsung pulang saja, pak,” pamit Afan.
***
Malam ini
begitu sunyi menusuk hati. Sunyi gelap memanjang menyelubung. Berangsur lenyap
disinari bintang dan rembulan. Tiada jemu mata memandang menatap langit
berbayang sang pujaan. Dinginya hembusan angin malam membekukan tubuh.
Memikirkan lelaki yang telah membuat harinya penuh warna. Mungkinkah ini yang
tengah Amara pikirkan.
“Mungkinkah
ini terjadi?” tanyanya dalam hati dan tersenyum sendiri.
“Selamat
tidur, boss,” lanjutnya.
Diseberang
sana terlihat lelaki yang dipikirkanya yang tengah sama memikirkan itu.
“Selamat tidur
juga, Ra,” serunya tersenyum.
Seakan mereka
ber-2 saling berbicara bertatap muka. Tak lama
setelah itu ke-2 insan ini terlelap dalam tidurnya dan bermimpi sang pujaan
hatinya.
***
Pagi itu di
kantor Amara tak melihat Afan, sosok pujaannya. Berkali-kali ia bertanya dimana
keberadaan sang boss-nya, namun tak satupun pegawai yang melihatnya. Hari itu
Amara hanya terus didalam ruangannya melakukan pekerjaan yang selalu menanti
dirinya. Terkadang Amara keluar dan mengintip ruangan Afan. Melihat apakah
sosok yang dinantinya sudah datang. Begitu pula hari-hari selanjutnya, lelaki
itu tak lagi datang. Afan telah pergi meninggalkan dirinya. Tak ada lagi yang
menemani dan mewarnai hidup gadis ini. Padahal lelaki itu telah berjanji akan
menjadi sahabat Amara sehidup semati. Dan akan selalu membuatnya bahagia.
“Mungkin
Afan memang ada kerjaan mendesak jadi ia tak bisa masuk kerja sekarang,”
bantinnya menenangkan dirinya sendiri.
Matahari
semakin tinggi. Halte kian sesak oleh puluhan, bahkan ratusan manusia yang
mempertahankan nasibnya dan menunggu bis kota. Dan Amara adalah satu di antara
mereka. Yang tak tahu apa yang akan terjadi nanti, besok, dan besok lagi. Yang
dia pikirkan sekarang hanya keluarganya dan Afan,
Sesampainya
didalam rumah. Gadis ini disambut dengan bundanya yang tengah menyapu
ruang tengah rumah.
“Amara, sudah
pulang nak? Kalu capek mama sudah buatkan kamu teh dingin didalam kulkas,” seru
bundanya dan tersenyum lembut.
“Makasih ya, ma.
Aku memang sedang capek berat,” jawab Amara santai dan menyambar mengambil teh
dingin buatan bundanya.
“Ma, papa
mana? Dari tadi kok aku nggak lihat ya?” tanya Amara sambil menyruput
minumannya.
“Tadi papa
kamu bilang kalau dia ada urusan mau menyelesaikan masalahnya di kantornya
dulu,” jelas bunda Amara. Gadis itu hanya menunduk tanda mengerti dan meneruskan
meminum minumannya.
“Mama,
Amara. Ada kabar gembira,” teriak ayah Amara berlari masuk rumah.
“Ada apa,
pa? Lihat gara-gara papa masuk lantainya jadi kotor lagi,” tanya bunda Amara
sedikik marah.
“Lihat,
diluar ada pihak bank dan rekan kerja papa yang akan mencabut semua barang kita
yang disita,” terang ayah Amara bersemangat sambil menujukkan tamu mereka
diluar. Lelaki separuh baya itu langsung menarik tangan isterinya dan anak
gadisnya keluar rumah untuk menemui tahunya.
“Kami dari
pihak bank akan mencabut semua barang kalian semua yang sudah salah pihak kami
sita,” terangya tegas.
Tanpa banyak
basa-basi keluarga Amara langsung diantarkan kembali ke rumah mereka yang
seperti istana itu. Sesampainya disana, rekan kerja ayah Amara langsung
menjelaskan kesalah pahamannya dan dengan hormat meminta maaf kepada keluarga
Amara. Ke-2 orang tua Amara sangat senang mendengar itu.
Namun tidak dengan Amara.
“Kalau begitu
saya harap bapak Andi bisa bekerja kembali membangun perusahaan kita,” serunya
sambil menyodorkan tanda persetujuan.
“Aya, pak. Saya
juga minta maaf telah lalai mengurus perusahaan selama ini, pak,” jawab ayah
Amara tegas dan menggenggam tangan rekan kerjanya, tanda setuju.
“Kalau begitu
saya langsung pamit pulang,” lanjutnya meninggalkan keluarga Amara.
***
“Kau
senangkan melihat semuanya kembali normal, Amara?” tanya ayahnya saat sarapan
bersama. Amara tak menjawab malah menampakkan muka cemberut.
“Lo, kenapa
cemberut, sayang?” tanya bunda Amara.
“Aku takut
kalian ngelupain aku lagi dan selalu memikirkan pekerjaan-pekerjaan dan
pekerjaan,” jelas Amara murung.
“Sayang,
kami janji tidak akan mengulangi itu lagi. Boss kamu itulah yang sudah membantu
papa selama ini dan mengembalikan semuanya. Dia berkata, dia sangat mencintai
dan menyayangi dirimu. Namun ia tak berani mengatakannya. Menurutnya kamu hanya
menganggap dirinya sebagai seorang sahabat dan layaknya seorang atasan. Jadi,
papa akan mengikuti semua perkataannya. Yang salah satu adalah ingin membuatmu
bahagia,” ayah Amara menjelaskan tulus.
“Jadi, semua
ini atas bantuan Afan?” ayah Amara mengangguk. “Lalu mengapa beberapa hari ini
aku tidak menemukan dirinya? Papa tahu dimana, dia?” tanya Amara berharap.
“Iya, semua
ini atas bantuannya. Dia hanya berkata pada papa. Bila kamu telah mendapatkan semua
yang kamu inginkan dan akan bahagia selamanya. Afan akan meninnggalkan dirimu,”
lanjut lelaki separuh baya itu. Amara hanya mendengarnya dan perlahan
meneteskan air matanya.
“Apa
maksudnya akan meninggalkan diriku, pa? Dia udah janji sama aku akan menjaga
diriku selamanya,” tanya Amara lagi dengan suara parau.
“Papa juga
tidak tahu apa yang dimaksudnya, sayang,” ke-2 orang tua Amara langsung memeluk
putrinya erat.
Tiba-tiba
Amara melepaskan pelukan itu. “Papa bohong. Afan nggak akan ninggalin sahabatnya,”
teriak Amara dan berlari keluar. Ke-2 orang tua Amara hanya melihat kepergian
gadisnya. Mereka tahu sekarang Amara hanya ingin sendiri.
***
“Permisi,
mbok. Benar ini rumah Afan?” tanya Amara dengan nada parau pada wanita tua yang
sedang menyapu halaman rumah Afan.
“Iya, mbak. Ini
benar rumah mas Afan.”
“Bisa
dipanggilin, mbok?”
“Lo, dipanggil
gimana? Mas Afan sudah meninggal selama sebualan yang lalu, mbak. Mbak salah
alamat, kali?” tanya wanita itu bingung.
“Maksud saya
Afan Firman Syah, betul tidak?” Amara semakin tidak mengerti.
“Benar, mbak.
Itu nama pemilik rumah ini. Tapi dia sudah satu bulan yang lalu meninggal,
mbak,” terangnya. Amara lagi-lagi meneteskan air matanya. “Apakah nama mbak ini
mbak Amara?”
Amara menghapus
air matanya.”Iya, mbok. Nama saya Amara.
Memangnya kenapa, mbok?”
“Ini..
ini.., surat dari mas Afan untuk, si mbak,” wanita itu mengeluarkan surat Afan
dari sakunya dan memberikannya pada Amara. Gadis itu
langsung mengambil surat
Afan yang sudah terlihat tua tak terawat
“Surat itu dibuatnya
saat mas Afan baru pulih koma. Dia mengatakan pada si mbok untuk memberikan
surat itu pada mabak Amara. Namun, sudah saya cari kemana-mana tidak ada rekan
mas Afan yang bernama Amara. Baru ini saya mendengar nama Amara,” lanjut wanita
itu. Amara mendengarkan sambil menangis lagi.
“Ya sudah,
mbok. Makasih suratnya,” jawab Amara pelan dan pergi meninggalkan wanita itu.
Seperti biasah Amara pergi
ketepian kolam untuk menenangkan dirinya. Sambil membaca perlahan surat Afan
Dear Amara,
Kalau aku boleh tebak pasti sekarang kamu ada ditepian kolam bukan dan
sambil menangis? Dimana tempat aku meminta maaf padamu, iya bukan? Ditempat ini
juga, aku akan meminta maaf dan berkata banyak terimakasih untukmu. Pertama aku
minta maaf karna sudah meninggalkan dirimu secepat ini. Dan ke-2 aku sungguh
berterimakasih padamu telah mewarnai dan menemani hari-hariku.
Amara, Mungkin kamu bingung atas semua yang terjadi padamu. Perlu kamu tahu
hidup adalah panggung sandiwara. Terkadang kita tidak mengerti mengapa kita
hidup dan diciptakan? Hidup memang lucu dan penuh dengan tebakan. Anggap saja
aku hadir dalam hidupmu hanya untuk membuat putri snow white-ku tersenyum
bahagia. Kamu juga bisa menganggap diriku malaikat yang turun dari surga dan
pergi ke bumi untuk mengajarkan hal baru dalam kehiduoan untukmu.
Sekarang semua yang kuinginkan telah tercapai. Jadi, aku harus kembali ke
surga. Sekali lagi maafkan diriku ini, ya. Aku harap kamu akan menjadi seorang
gadis yang selalu ceria, bersemangat, pantang menyerah dalam bekerja, dan yang
terpenting bahagiakan dan buatlah senang orang-orang didekatmu.
Jangan lupakan semua kisah kita, ya. Ini akan tertulis tinta emas dihatiku,
kuharap kau juga. Aku akan selamanya terus menjadi sahabat setiamu seumur
hidupmu…
Malaikat
dari Surga,
Afan
“Aku tak akan melupan semua itu. Malaikat dari Surga-ku,”
serunya pelan
Setelah membaca surat
itu. Amara tidak menangis lagi dia malah tersenyum senang. Gadis ini sadar
itulah kehidupan. Tiba-tiba dibelakangnya telah hadir orang-orang yang menyayanginya.
Ke-2 orang tuanya dan Diana sang sahabat.
Hari-hari
berikutnya semuanya telah kembali. Ke-2 orang tua
Amara tak lagi melupakan dirinya. Dan Amara bersama Diana akan terus senang
menjalani waktu-waktu yang ada.


Post a Comment