Gemerlap dunia tak
memberi makna hidupnya
Kerlap-kerlip
lampion tak jua memberi cahaya baginya
Secerca harapan
yang terus ia kejar
Namun, bak
fatamorgana belaka
Akankah
suatu fatamorgana itu menjadi sebuah oase yang nyata?
Mungkinkah
keajaiban datang menghampirinya dan mengubah segalanya?
Setitik embun
terjatuh dari mata indahnya
Jeritan hati terus
menggema dalam dada
Si Fulan terus
bertahan dengan harapan kosongnya
Terus berharap dan
bertahan
Hingga
akhirnya ia membulatkan tekat untuk melangkah
Hanya
bermodal tekat dan keyakinan
Ia
terus melangkah dan mengambil pijakan
Suatu
pijakan menuju masa depan
Sebagai awal
kebahagianya
Namun, tak semudah
membalik telapak tangan
Dunia berputar…
Tak peduli dengan apapun yang
terjadi didalamnya
Si Fulan yang kesepian terjun ke
sebuah dunia baru, pilihnya
Namun apa yang terjadi?
Cahaya yang
dicarinya tak kunjung tampak
Jalannya masih
tetap gelap meski telah berada dalam sebuah keadaan baru
Mungkinkah
kegelapan ini akan mendekapnya?
Hari
silih berganti, waktu terus bergulir
Nampak binar diwajahnya
Ketika seberkas cahaya dihadapannya
muncul
Cahaya redup yang samar-samar itu
Perlahan
menjadi terang dan gelap
Makin
lama, makin dekat
Cahaya
itu terlihat semakin indah
Menentramkan jiwa
yang sepi itu
Melukiskan warna
baru dalam hidupnya
Warna baru yang
membuatnya terus tersenyum
Jiwa
yang sepi kini luntur oleh keceriaan yang selalu menyelimuti
Canda
tawa mewarnai hari-harinya
Saat-saat
itulah yang menjadi asanya
Waktu
yang takkan pernah ia lupakan
Kenangan
yang akan terpatri selamanya dihati Si Fulan
Lembaran kegelapan
hidupnya dulu
Kini tertutup
rapat oleh sececah harapan hidupnya
Akankah
hari-harinya terus bertabur bintang?
Sungguh tak ingin
rasanya meninggalkan saat itu
Namun
dunia takkan peduli apa yang terjadi didalamnya
Akan
tetap berputar seiring waktu bergulir
Kata berpisah
sulit diucapkan
Genggaman tangan
sulit terlepaskan
Kebersamaannya
saat menyusuri ombak dikala pasang
Kebersamaannya
bernapas dikala terik
Bertindih susah
bersama
Bermandi keringat
tanpa jeda
Takkan mudah ia
lupakan ditanah baru nanti
Takkan ada
perdebatan perlombaan memacu perahu
Di tanah baru kelak….
Mungkinkan
gersang tanpanya
Lembaran-lembaran yang dulu telah
menemaninya
Seakan
pupus digulung ombak samudra
Seragam biru
putihnya yang melekat ditubuh Si Fulan kini harus terlepas
Akhir masa remaja
madya tak pernah terlupakan, pikirnya
Mungkinkah
hari-harinya kelak dapat mengguyur keringnya hati Si Fulan?
With : Aufiatul Wafi
Rizqi
Nafis Sania Adibi
Wilda
Iltiqo’ul Jannah


Post a Comment