Tok.. Tok.. Tok..
Bunyi
ketukan lembut Bella yang sedikit bimbang akan pilihan hatinya. Namun tak ada
jawaban dari dalam rumah ataupun datangnya seseorang untuk membuka pintu.
“Permisi.. Permisi..” ujar Bella lembut sambil mengetukan
pintu berulang kali. Tiba-tiba ambang
pintu bergerak dan keluarlah seorang gadis remaja.
“Mbak Bella? Ada
apa, mbak?” tanya gadis itu.
“Emmmhh.., mbak Sita ada?”
“Mbak Sita pergi ke pasar.”
“Kok siang-siang ke pasar sech, ngapain?”
“Dagang, mbak,” jawab Fitri singkat.
“Dagang? Bukannya mbak kamu sakit, Fit?
“Enggak kok. Malah udah seminggu ini mbak Sita dagang
di pasar.”
“Jadi dia nggak masuk sekolah Cuma karena dagang?”
“Iya. Tapi setahuku mbak Sita udah keluar dari sekolah
deh.”
“Keluar dari sekolah? Kok bisa?
“Itu semua juga gara-gara mbak Bella,” potong Wahyu yang
tiba-tiba keluar dari dalam rumah.
“Maksud, Wahyu ngomong gitu apa?” Bella semakin bingung
dengan pembicaraan ke-2 adik sahabatnya itu.
“Jangan didengar, mbak,” jawab Fitri sambil mendekap
mulut adiknya.
“Fitri, lepaskan tangan kamu biarkan adikmu menjelaskan,”
suara Bella mulai keras. Fitripun melepaskan tangannya.
“Iya. Mbak Bella yang membuat mbak Sita nggak bisa
sekolah lagi,” si kecil Wahyu menjelaskan layaknya seorang lelaki dewasa.
“Kenapa kamu berfikir seperti itu?”
“Gini loh, mbak. Aku dengar beasiswa mbak Sita ditarik
lagi dan itu karena kedatangan siswi baru di sekolah mbak sita dan siswi baru
itu mbak Bella,” Fitri ikut bicara dengan muka bersalah.
“Aku masih nggak ngerti maksud kamu?”
“Kata mbak Sita tiga minggu yang lalu diadakan adu
prestasi antara mbak Sita dan mbak Bella untuk merebutkan dana beasiswa-kan?
Dan ternyata pemenangnya mbak Bella. Akhirnya dana beasiswa mbak sita ditarik
tapi sebelumnya pihak sekolah memberikan waktu seminggu untuk mbak Sita agar mbak
Sita bisa memperbaiki nilai-nilainya. Namun, semua itu terbuang percuma,” terang
Fitri panjang lebar.
“Kalau masalah itu aku nggak ngerti, Fit. Beneran deh.
Masak Cuma gara-gara itu Sita dikeluarin?” Bella sedikir bersalah.
“Sebenarnya mbak Sita nggak dikeluarin sech tapi dia
sendiri yang nggak mau sekolah lagi.”
“Kenapa gitu?”
“Mungkin mbak Sita takut mengecewakan sekolahannya lagi.
Apa lagi dengan kedatangan Mbak Bella yang sudah sangat dipercaya oleh pihak
sekolah itu semakin membuat mbak Sita malu itu sekolah. Selain itu ekonomi
keluarga kami sudah di ujung tanduk,” Fitri menjelaskan lagi.
“Jadi gitu ceritanya. Terus selama mbak kamu sekolah
kalian makan pakai apa?”
“Sebelum aku sama mabak Sita berengkat sekolah kami berdagangan
gorengan dahulu kalau waktunya nggak cukup dagangan itu kami titipkan ke
warung-warung.”
Mendengar penjelasan yang dilontarkan Fitri hati Bella
sangat tertusuk. Ia tak tahu kalau kedatangan dirinya di sekolah Sita itu malah
membuat sahabatnya terbebani. Air mata Bella pun jatuh mengalir. Gadis ini
benar-benar merasa bersalah atas semua yang telah menimpa Sita.
“Memangnya ke-2 orang tua kalian kemana?”
“Ayah kami udah meninggal semenjak ibu menghamil Wahyu. Beliau meninggal tertabrak mobil saat ayah dagang
sayuran. Kalau ibu juga udah
lama meninggal saat aku masih duduk dikelas 6 sd. Ibu mempunya penyakit tumor
ganas di jantungnya,” Fitri menjelaskan dengan suara parau.
“Maaf udah buat kamu sedih,” Bella merangkul Fitri dengan
lembut.
“Nggak pa-pa kok. Semuanya udah berlalu. Nggak baik kalau
aku menangisi yang sudah lama terjadi,” suara Fitri mulai pulih.
Sekitar 15 menit mereka bercakap panjang lebar. Fitri
bercerita panjang tentang jalan kehidupan kakak perempuannya. Begitu juga
sebaliknya dengan Bella.
“Oh, iya. Aku bawa makanan ini untuk kalian ber-2. Sudah
siang aku pulang dulu ya. Salam buat mbak Sita,” pamit Bella.
***
Senja ini
kelihatan lebih gelap dari biasanya, padalah baru pukul setengah enam sore. Langit di sebelah barat nampak agak mendung. Sita bukanya melangkah
cepat. Namun ia malangkah dengan tak henti-hentinya memikirkan nasib
adik-adiknya. Hanya itu terus yang menyelimuti pikirannya.
Pekarangan
rumah yang bersih dan lenggang menyambut kepulangannya senja itu. Sitapun
memasuki rumahnya yang menurut dirinya itu adalah tempat semua kenangan-kenangan.
Disana terlihat ada Fitri dan Wahyu yang sedang asyik
duduk bersandar didinding depan rumah.
“Mbak Sita,”
teriak Wahyu senang dan berlari memeluk Sita. Gadis itu berjalan pelan memasuki
rumah dan terkejut melihat berjejeran makanan lezat diatas meja.
“Ini milik
siapa, Fit?” tanya Sita heran.
“Oohhhh,
makanan itu milik… ya, milik kami lah, mbak,” jawab Fitri bimbang.
“Kamu dapat
dari mana makanan sebanyak ini?”
“Emmmmh,
dapat dari…,” Fitri menghentikan perkataannya. “Dikasih
tetangga depan,” potong Fitri berbohong.
“Nggak mungkin
kalau sebanyak ini dong,” ujar Sita heran dan menunjuk makanan yang dia maksud.
Fitri bingung harus berkata apa pada kakak perempuannya itu. Tidak mungkin kalau dia katakana semua makanan itu
pemberian dari Bella masalahnya Sita sendiri telah mencoba menjauhi sobatnya
itu perlahan-lahan.
“Makan itu dikasih sama mbak Bella, mbak. Tadi
dia kesini dan bercerita banyak. Mbak Bella itu baik deh,” kata Wahyu yang
tiba-tiba ikut angkat bicara.
“Semua ini
dari Bella? Benar itu, Fitri?” tanya Sita terkejut.
“I…i…i…ya,
mbak,” jawab Fitri takut.
“Cuma njawab
kayak gitu aja sampai berbelit-belit. Kamu kira
mbak akan marah, enggak kok. Tapi kalau Bella ngasih macam-macam lagi kamu
tolak ya,” perintah Sita lembut. Fitri hanya menganggukkan kepala.
“Barang
dagangan mbak Sita mana? Semuanya laku terjual?” tanya Wahyu layaknya seperti
anak kecil yang sepertinya ingin tahu segala hal.
“Sebenarnya
dagangan mbak Sita laku terjuan semua tapi waktu mbak mau membelikan makanan
untuk kalian, tas mbak kecopetan,” Sita menjelaskan.
“Tapi mbak
nggak pa-pa kan?” tanya fitri khawatir.
“Nggak
pa-pa,” jawab Sita singkat.
Selama ibu
Sita telah tiada mereka hanya tinggal ber-3. Sitalah yang menjadi tulang
punggung bagi adik-adiknya. Walau begitu gadis ini tetap menjalani hidupnya
dengan penuh warna. Terkadang dagangan miliknya juga tidak begitu lancar itu
sudah menjadi tanggungan seorang pedagang. Tak lagi kalau Fitri adiknya sedang
membutuhkan biaya untuk keperluan sekolahnya semua itu makin membuat Sita harus
menyadari bahwa hanya dirinya seorang yang bisa memenuhi itu. Pontang-panting
Sita terus berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun semua itu ia lakukan
dengan tegar dan terus berusaha. Gadis itu menjadikan perkataan terakhir yang
pernah dilontarkan oleh almarhumah ibunya “Terus tegar dan pantang menyerah”,
kata-kata terus terkiang dalam telinganya itu yang menbuatn gadis seumurnya
tetap berdiri.
***
Malam ini begitu
sunyi menusuk hati. Sunyi gelap memanjang menyelubung. Waktu terus berjalan
menghampirinya. Pagi sesat datang menjelang, semantara gadis itu tetap
tersungkur di kamar tidurnya. Berangsur lenyap disinari bintang dan rembulan.
Dinginya hembusan angin malam membekukan tubuh. Bella terus memikirkan nasib sobatnya.
“Kalau hanya
begini saja itu tidak membantu Sita. Lalu apa yang harus kulakaukan agar
membuat Sita mau kembali sekolah?” pertanyaan itu terus yang berkali-kali ia
lontarkan
“Mungkinkah…
Ya, itu benar.” Sepertinya Bella telah menemukan jalan keluar untuk masalahnya.
Pagi itu udara masih begitu
segar. Pancaran sinar matahari belum begitu terpancar. Gundukan tanah terlihat
basah terkena tetesan embun malam. Hari itu memang beda dari biasanya. Semangat
Bella telah muncul berapi-api. Entah apa yang membuat gadis itu sangat
bersemangat.
Tak biasanya setelah bangun tidur
Bella langsung beranjak masuk ke kamar mandi lalu ia lanjutkan bersiap pergi ke
sekolah. Selesai itu semua gadis itu lansung sarapan bersama keluarganya dan
tanpa banyak bertingkah ia langsung pergi berangkat.
Beberapa
siswa-siswi mulai berdatangan. Jam tangan Bella masih menunjukkan
pukul setengah enam tepat. Pancaran sinar
matahari menyelinap masuk melalui kisi-kisi di tembok perpustakaan. Udara tak
lagi sesejuk tadi. Berkas-berkas sengatan sinar matahari menghangatkan kulit.
Sehangat sapa para siswa yang telah akrab dengan gedung tua ini, dengan Bella,
dengan rak-rak buku koleksi buku-buku setebal bantal.
Gadis itu tengah
serius menatapi layar computer entah apa yang sedang sibuk ia kerjakan.
Beberapa situs web-web ia buka satu demi satu. Sepertinya Bella memang
benar-benar mempunyai rencana besar dan sangat serius.
“Nah.., akhirnya
selesai juga. Semoga semua yang aku lakukan tidak terbuang percuma begitu
saja,” ujarnya pelan. Gadis itu sangat gembira sekali
telah menyelesaikan proyek pentingnya itu.
“Pengumumannya
besok. Lumayan sebentar. Mudah-mudahan ini berhasil,” katanya lagi sambir
tersenyum senang.
***
Matahari semakin tinggi. Terik
sang surya tak lagi bersahabat. Pancaran sinarnya menusuk seluruh penjuru isi
bumi. Ratusan orang berjalan melusuri warung-warung es.
Begitu pula dengan Bella. Gadis itu menghentikan kendaraannya untuk menikmati
dinginnya es degan, minuman favoritnya dari kecil. Tiba-tiba mata itu tertuju pada satu titik dan tenyata pada seorang gadis
remaja.
“Fitri..,” teriak Bella sambil
melambai-lambaikan tangannya. Gadis remaja itupun melihatnya dan segera mengampiri Bella.
“Ngapain kamu disini?” tanya
Bella. Fitri hanya diam dan tertunduk.
“Bukannya kalau hari Senin kamu
pulang sore, Fit?” Bella bertanya lagi.
“Iya, mbak,” jawab Fitri singkat.
“Jangan-jangan kamu bolos
sekolah ya?” goda Bella.
“Sebenarnya aku nggak niat
bolos sekolah tapi…,” Fitri menghentikan perkataannya.
“Tapi kenapa? Kamu ngamen ya?”
“Iya, mbak. Aku ngamen,” Fitri
menundukan kepalanya lagi.
“Kenapa kamu ngelakuin itu?
Seharusnya kamu sekolah, bukannya setelah ini kamu menghadapi UAN?” Bella tak
mengerti maksud dari kelakuan Fitri.
“Benar sech, mbak. Tapi aku
malu mau sekolah.”
“Kenapa? Cerita dong,” bujuk Bella.
“Sebenarnya… SPP-ku udah nunggak banyak, mbak karena
itu aku malu mau sekolah. Setiap kali aku bertemu sama guru bagian
administrasi, beliau selalu nagih uang SPP. Padahal hasil dagang mbak Sita
nggak mencukupi,” terang Fitri lesu.
“Memangnya SPP kamu nunggak berapa bulan sampai kamu
malu mau sekolah lagi?” tanya Bella simpati.
“Hampir setengah tahun,” jawab Fitri singkat.
“Aku baru aja dari bank, gimana
kalau aku yang ngelunasi SPP kamu dulu? Jam segini sekolahan kamu belum pulang kan?”
tanya Bella lembut.
“Belum sech, mbak. Tapi masak
mbak Bella yang harus melunasi semuanya?”
“Nggak pa-pa kan? Lagian aku
kan udah nganggap mbak kamu sebagai saudaraku sendiri. Jadi kalau aku mau bantu
kamu juga nggak ada salahnya juga dong,” ujar Bella.
Akhirnya Fitripun menerima
kebaikan Bella. Mereka langsung pergi menuju sekolah Fitri. Sesampainya disana
Bella segera melunasi SPP Fitri. Setelah itu Bella mengajak Fitri ke rumah
makan.
“Makasih ya, mbak,” ujar Fitri senang.
“Iya. Santai aja kali,” jawab Bella santai.
“Mulai besok kamu harus sekolah lagi ya. Jangan sampai hasil UAN kamu jelek.
Buat kakak kamu senang dan bangga dengan nilai yang kamu dapat,” lanjutnya
sambil membelai kepala Fitri lembut.
“He-em.” Fitri hanya mengangguk senang.
Selesai makan siang Bellapun
mengantar Fitri pulang.
“Aku nggak mampir ya, Fit,”
ujar Bella dan pergi menjauhi pekarangan rumah Sita. Fitri pun melambaikan tangannya pada Bella.
***
Pagi ini kelihatan cerah, ramah, dan bersahabat. Hangat,
sehangat sapa para siswa-siswi yang akrab dengan Bella. Gadis itu melangkahkan
kakinya untuk pergi ke perpustakan lagi. Secepat kilat ia menggerak-gerakkan
mouse dengan tangannya yang telah mahir. Bella
membuka situs yang kemarin ia buka untuk melihat pengumuman.
“Sita.. Sita.. Sita..,” ujarnya
sambil meneliti nama-nama pemenang yang dicantumkan. Wah, ternyata masuk. Aku
harus segera mengabarkannya,” lanjurnya semangat dan langsung berlari cepat
menuju ruang guru.
“Permisi, pak,” sapa Bella.
“Sini masuk,” jawab pak Rifqi,
guru bahasa Indonesia.
“Bapak sudah melihat nama-nama pemenang penulis cerpen
terbaik?”
“Ini saya mau membukanya.
Memangnya kenapa?”
“Coba bapak lihat dulu,” tawar Bella.
“Wow, ini ada Sita teman
sekelas kamu bukan? Dia memenangkannya. Kepala sekolah harus tahu hal ini,”
ujar pak Rifqi semangat. Lelaki paruh baya itu langsung pergi keluar menuju
ruang kepala sekolah. Sepertinya ingin memberitahukan pengumuman yang barusan ia
lihat. Bella hanya diam senang melihat kepergian guru bahasa Indonesianya.
Didalam ruang kepala sekolah,
pak Rifqi menjelaskan semua yang telah ia baca di internet.
“Pak, siswi kita yang satu ini
memang sangatlah berbakat. Apakah tidak sebaiknya kalau dana beasiswa itu
beliau turunkan lagi untuknya?” tanya pak Rifqi.
“Benar-benar. Tidak banyak orang
yang bisa memenangkan lomba menulis tingkat umum se-Nasional,” jawab pak
Saiful, kepala sekolah
Ternyata dari balik pintu ruangan itu Bella menguping
pembicaraan serius antar ke-2 belah pihak.
“Coba kamu panggilkan Bella,
setahu saya dia akrab dengan Sita,” perintahnya tegas. Sebelum pak Rifqi
melaksanakan perintah itu. Tiba-tiba Bella membuka ruangan kepala sekolah
dengan sembrono karena mendengar namanya disebut-sebut.
“Ada apa, pak? Saya siap
mendapat perintah,” seru Bella sambil mengangkatkan tangannya tanda hormat.
“Kenapa kamu tiba-tiba masuk
begitu saja?” tanya pak Saiful.
“Emmmh.., saya..,” jawab Bella bingung
“Pasti dari tadi kamu menguping
pembicaraan kami bukan?” tanya pak Saiful sekali lagi.
“Hehehe… Iya, pak,”
jawab Bella enteng.
“Lain kali jangan
kamu ulangi lagi sikap sembrono kamu itu ya. Ini surat kamu kasihkan sama Sita
dari saya. Bisakan?”
“Bisa-bisa, pak.
Kalau surat ini saya berikan sekarang juga boleh tidak, pak?”
“Boleh-boleh saja.
Asal kamu harus mengajak sita untuk sekolah hari ini juga. Kamu sanggup?” pak
Saiful mengetes.
“Pasti sanggup,
pak. Tapi saya juga minta izin sama pak Rifqi untuk tidak mengikiuti pelajaran
pertama, bolehkan?
“Silahkan saja tapi
kamu juga harus secepatnya sampai ke sekolah ya,” jawab pak Rifqi bijak.
“Siap, pak. Saya
pergi dulu,” seru Bella semangat sambil mengangkat tangan tanda hormat lagi dan
segera pergi.
***
“Permisi…
Permisi…”
“Iya.” Muncul
seorang gadis dari dalam rumah.
“Em, Sita aku
kesini mau memberikan surat ini,” seru Bella sambil menyodorkan surat yang ia
maksud.
“Ini surat dari siapa?”
tanya Sita heran.
“Dari pak Saiful.
Kamu langsung baca aja.”
“Dalam surat ini
mengatakan kalau aku memenangkan lomba menulis tingkat nasional,” Sita semakin
bingung dengan isi surat itu.
“Iya, kamu
memenangkan lomba menulis,” Bella menjelaskan.
“Perasaan aku nggak
pernah ngirim tulisanku deh.”
“Aku yang ngirim
karangan kamu. Sorry aku udah lancang buka loker kamu. Disitu aku nemuin banyak
karangan-karangan kamu. Terus aku kirim lewat email-ku, Sit. Maaf aku nggak izin
ke kamu dulu. Itu semua aku lakuin untuk buktiin ke kamu kalau aku benar-benar
udah nganggap kamu sebagai sahabat terbaikku,” terang Bella.
“Kamu nggak usah
kayak gitu aku udah nganggap kamu sebagai sahabat terbaikku kok, Bel,” jawab
Sita tulus.
“Kamu baca lagi
deh suratnya.”
“Ya ampun, Bel.
Aku dapat dana beasiswa lagi,” ujar Sita senang.
“Iya. Mulai
sekarang kita ber-2 yang mendapatkan beasiswa itu,” seru Bella gembira.
“Makasih banyak,
Sit. Aku nggak tahu harus balas apa untuk kebaikan kamu semua ini. Aku juga mau
berterimakasih banyak sama kamu untuk masalah SPP adikku.”
“Masalah kecil itu
aja dibahas lagi. Persahabatan tak melihat untung rugi. Buat adik kamu senang
aku juga sangat senang sekali, Sit” kata Bella tulus. Mendengar jawaban
sobatnya itu membuat Sita terharu dan menjatuhkan air mata.
“Kok nangis
sech. Jangan nangis dong.”
Sita langsung
menghapus air matanya. “Aku nggak nangis ini untuk
tanda persahabatan kita,” jawab Sita senang.
“Kalau gitu
sekarang kamu ganti seragam sana. Pak Saiful ingin kamu sekolah lagi.”
“Ok, bos,” jawab
singkat Sita.
Setelah kejadian
itu persahabatan antara Bella dan Sita terus berjalan sampai mereka mempunyai
keluarga. Persahabatan memang sangatlah indah. Kehidupan di dunia akan semakin
berwarna kalau kita mempunyai sahabat sejati.


Post a Comment